Senin, 28 Mei 2012

Hal. 5 > Yang Tervital Tetapi Ganjal di Diri Kita

Hal. 5
3. Mengunjungi Area Vital
Semua pasti membutuhkan beragam fasilitas yang vital yang kerapkali kita kunjungi. Namun, beragam fasilitas sarana dan pra sarana yang ada di ibukota Jakarta masih banyak yang belum memadai sebagai persyaratan yang mutlak dimiliki secara internasional. Pemerintah seolah mementingkan kehendak mereka masing - masing tanpa memedulikan para rakyatnya yang membutuhkan fasilitas yang baik di samping perekonomian yang baik pula.

3.1. Toilet Umum Yang Dekil, Bau Pesing dan Berbeda dari Kebanyakan Secara Internasional
Di negara Indonesia entah mewakili negara di kawasan Asia pada umumnya toilet didesain dengan beragam. Namun, berbeda lokasi akan berbeda tampilan. Di bangunan - bangunan persinggahan seperti SPBU / stasiun pengisian bahan bakar umum, mini market, pertokoan kecil dan lain sebagainya toilet hanya didesain untuk WC jongkok saja. Berbeda dengan area publik pada umumnya seperti pasar, terminal, stasiun dan lain sebagainya memiliki urinase yang biasa digunakan kaum pria serta masing - masing memiliki wastafel.
Namun, jangan ditanya soal kebersihannya... Apabila di antara para blogger sekalian anti sekali dengan melihat WC jongkok, maka sebaiknya hindarin toilet - toilet semacam itu. Pada umumnya pula di kawasan area publik yang didominasi oleh masyarakat berbagai golongan strata sosial (-+ dimayoritasi oleh golongan menengah ke bawah), maka akan terlihat dekil alias kotor dan bau pesing. Belum lagi akan dipungut bayaran minimal Rp 1.000,00 per orang. Berbeda di kawasan area publik yang tergolong mayoritas masyarakat menengah ke atas. Sebut saja itu mal, plaza, hotel berbintang dan masih banyak lagi yang umumnya dengan menggunakan WC duduk yang berarti sudah standar internasional. Pada umumnya bangunan - bangunan tersebut sudah memiliki para petugas kebersihan yang kerap kali membersihkan hampir semua area sesuai tugas masing - masing.


3.2. Mushola Yang Tidak Terawat
Islam mengajarkan kita untuk suci secara lahir - batin. Namun, pada umumnya kita harus merelakan realita yang ada bahwa di sekitar kita masih banyak salah satu area Servis yang salah satunya ruangan di mana kita yang beragama Islam menjalankan ibadah salat, mengaji dan banyak juga yang sekedar tiduran atau pun rebahan dari padatnya aktifitas harian kita masing - masing. Pada umumnya di area publik seperti demikian adanya... Kurangnya perawatan membuat karpet untuk sajadah menjadi berdebu, penghawaan seadanya karena minimnya ventilasi, padatnya pengunjung menambah hawa panas meski sudah digunakan van atau kipas angin dan lain sebagainya. Pengecualian untuk ruangan ini kita tidak dipungut bayaran melainkan sekedar kotak amal yang biasanya tersedia di dalam atau pun luar mushola.
- Tempat Penitipan Alas Kaki
Kita tidak usah kuatir akan kehilangan alas kaki selama kita menjalankan salat karena pada umumnya mushola dijaga oleh lebih dari 1 orang untuk menjaga alas kaki kita dengan kertas angka sesuai loker yang ada. Tapi tidak sedikit juga yang tidak memiliki pengawas. Oleh karena itu, yang satu ini sebaiknya kita pikir - pikir untuk kita taruh di dekat lantai bertuliskan "Batas Suci" melainkan sebaiknya ditaruh di dalam tas kita masing - masing.
- Area Wudhu Biasanya Untuk Bersama
Sayangnya bagi kaum wanita yang mengenakan jilbab sulit untuk mengambil wudhu karena kebanyakan mushola menjadi satukan area wudhu bagi pria dan wanita. Otomaits kaum pria akan dapat melihat para wanita yang melepas jilbab. Kecuali apabila para wanita tersebut mengambil wudhu urutan ke-6 tersebut dengan sekedar cipratan saja. Pada umumnya cara seperti ini dilakukan agar dapat berwudhu dengan cepat.
Tips dari saya > Bagi kaum wanita sebaiknya ambil wudhu antara no. 1 - 7 dilakukan di dalam toilet saja untuk selanjutnya urutan berwudhu no. 8 dilakukan di area wudhu. Tapi cara seperti ini tidak harus dilakukan sepenuhnya karena masing - masing memiliki keyakinan yang berbeda...

3.3. Petunjuk Arah Yang Sangat Minim
Terkecuali di ruas - ruas jalan raya dengan papan penunjuk arah dan di ruas jalan mana pun dengan papan penunjuk alamat nama jalannya, di propinsi ibukota negara RI ini masih sangat minim dan seolah - olah dibutakan oleh keberadaan lokasi yang dapat kita jangkau menjadi sangat sulit. Sebut saja itu di area fasilitas Trans Jakarta, di taman kota seperti area Monumen Nasional, kota tua Museum Fatahillah dan masih banyak lagi, di stasiun KA dan di mana pun keberadaan kita. Kesemuanya itu masih sangat sulit memberi info petunjuk arah ke kita khususnya sebagai turis.
- Jangan Terlalu Menghandalkan Petunjuk dari Orang-orang Sekitar
Orang - orang sekitar mungkin bisa cukup dan banyak membantu keberadana kita yang kesulitan mencari petunjuk arah tujuan yang ingin kita tuju. Namun, apa yang dituturkan mereka belum tentu kebenarannya sebanyak 100%. Apalagi mendadak dari kita berubah niat untuk mengalihkan tujuan kita ke suatu tempat yang berbeda dari si pemberi petunjuk arah tersebut. Bahaya laten yang ada, seperti sulitnya mereka berbahasa asing seperti Inggris karena belum tentu semua warga masyarakat mampu berbahasa asing, menjadi kesempatan para pelaku kriminal dengan berbagai cara mengecohkan kita, bisa saja karena orang tersebut bukan warga setempat atau juga masyarakat yang sekedar mengunjungi kawasan terserbut untuk sekedar berlibur dan masih banyak lagi.
- Fasilitas Lengkap Hanya Ada di Komplek Tertentu
Di lingkungan pusat perbelanjaan seperti mal, plaza, ITC dan lain sebagainya, bahkan di kawasan bisnis dan niaga pun setidaknya masih mampu kita jumpai petunjuk - petunjuk arah yang lengkap. Namun, itu semua hanya di lingkungan suatu bangunan tertentu saja. Di ruas jalan raya alias di lingkungan fasilitas publik pada umumnya jangan berharap kita mendapatkan petunjuk yang memadai.

3.4. Minimnya Keberadaan Taman Kota
Keberadaan taman kota di kebanyakan kota besar di negara mana pun, bahkan di Indonesia yang dikenal dengan sebutan 'alun - alun' memang sungguh diperlukan. Taman kota sudah kita kenal sebagai kawasan serapan dari keberadaan air bersih dan ruang udara yang sejuk karena diberi rimbunan pohon dan area bersantai dan bermain yang luas untuk anak - anak. Namun, tidak begitu banyak di ibukota Jakarta ini dapat kita temui karena tergerus dengan era perkembangan zaman yang membuat warga masyarakat dimanjakan dengan keberadaan beragam pusat perbelanjaan yang menghadirkan ragam toko, restoran dan produk apapun yang ditawarkan dengan area ruang terbuka hijau atau pun area tertutup yang luas dan cukup luas demi kenyamanan dan keamanan di lingkungan tersebut.
Namun, apakah kita dapat dengan mudah menjamakkan pusat - pusat perbelanjaan tersebut??? Jawabannya tentu amat sangat beragam meski memiliki banyak kendala dalam keseharian kita sebagai warga ibukota Jakarta.
- Terkalahkan oleh Pusat - Pusat Perbelanjaan
Seperti yang aku ketik di atas, minimnya keberadaan taman - taman kota dikarenakan tergerus dengan perkembangan zaman yang memanjakan para warga masyarakat untuk mendapatkan fasilitas yang mudah, cepat dan nyaman. Namun, tanpa memikirkan keberadaan dari pusat - pusat perbelanjaan tersebut telah memakan waktu jutaan warga yang berada di jalan raya. Jalan raya senantiasa berjuang demi pertahanan diri masing - masing dari semakin mengelupasnya aspal sebagai badan jalan yang kian tergerus oleh ban - ban kendaraan bermotor yang terjebak macet oleh ulah kendaraan bermotor itu sendiri. Kacaunya arus lalu lintas kendaraan bermotor disebabkan oleh banyak kendaraan bermotor yang hendak berputar arah hanya untuk keluar - masuk area pusat perbelanjaan yang ada, angkutan umum yang lama berhenti atau ngetem demi mendapati sewaan atau penumpang yang banyak, kondisi prapatan atau pun pertigaan di dekat pusat perbelanjaan yang tidak terbendung dan masih banyak lagi...
Dari beragam kendala seperti yang aku ketik di atas ini apakah ada tanda - tanda kalau warga masyarakat ingin dengan segera mendapati fasilitas yang sejuk, nyaman dan tanpa buang - buang waktu untuk lekas bersantai di dalamnya??? Dengan modal berjalan kaki sama juga mengorbankan sekujur tubuh kita yang semakin tercederai oleh asap knalpot, kerusakan trotoar, banyaknya tapal batas seperti tiang listrik, reklame, pepohonan rindang dan masih banyak lagi.
- Fasilitas - fasilitas Yang Tergusur
Dahulu masih ada fasilitas stadion untuk berolah raga yang tidak hanya mencakup sepak bola, dahulu ada sebuah empang yang dipenuhi banyak ikan, dahulu dan dahulu.... Namun, keberadaan mereka sudah banyak yang terbengkalai. Tanpa memikirkan manfaat dari keberadaan stadion dan empang, pemerintah seakan tidak mau tahu agar para warga masyarakat diberikan fasilitas yang cepat dan nyaman demi menunjang kebutuhan primer dalam persoalan mencari nafkah. Keberadaan mereka yang tersier seperti itu bukanlah sesuatu hal yang penting di mata pemerintah.

3.5. Keberagaman Bahasa
Indonesia kaya akan budaya bangsa dengan keberagaman bahasa dan adat - istiadat. Mewakili kekayaan budaya yang ada, Jakarta sudah menjadi magnet bagi para pendatangnya yang bukan saja tergolong warga Pribumi, bahkan para warga keturunan dan ekspatriat yang ingin mendulang 'emas' di luar kota kelahiran masing - masing. Dengan beragam bahasa yang berbeda satu sama lain mereka bersatu bersosialisasi dan beradaptasi hingga menjadi satu - kesatuan utuh dalam ikatan tali kekeluargaan sebagai warga ibukota Jakarta.
- Hati - hati Salah Penerjemahan
Melalui buku komunikasi yang dimiliki saudara sepupu saya sempat saya ketahui bahwa dalam bahasa Indonesia saja memiliki banyak sisipan bahasa dari bahasa - bahasa asing sebagai warisan dari pendahulunya, yaitu bahasa Portugis (Portugal), Belanda dan bahasa - bahasa di negara Eropa lainnya. Sangat kontroversial kalau diulas di sini karena akan memakan waktu yang sangat lama pastinya, namun aku hanya memberi beberapa contoh saja dalam percakapan sehari - hari yang sering atau pun dapat kita jumpai.
Mungkin Anda para blogger sekalian yang berkewarga negaraan asing yang sudah terbiasa menghafalkan bahasa Indonesia karena entah menyukai bahasa Indonesia atau pun menyukai negara Indonesia akan merasa risih dengan membanding - bandingkannya dengan bahasa Melayu yang kerap kali dipergunakan masyarakat negara Malaysia. "Anda diundang" berarti dalam bahasa Indonesia kalau kita semua atau pun salah satu dari kita diwakilkan untuk diundang ke suatu acara. Namun, konon dalam bahasa Melayu diterjemahkan menjadi "Awa' dijemput" yang sekilas kita sudah meyakini bahwa kata "awa'" berarti "kamu". Namun, akan menjadi salah paham apabila menerjemahkan ke bahasa Melayu tetap dalam bahasa Indonesia yang berarti salah satu dari kita diwakili untuk siap didatangi oleh seseorang atau pun untuk siap dijemput dengan kendaraan dinas, sewaan, pribadi atau apapun itu jenisnya.
Contoh lainnya saat saya mengalaminya di ibukota Bangkok. Pemandu wisata kami asli berkewarga negaraan Thailand faseh berbahasa Indonesia. Namun, oleh karena kultur budaya setempat, sang pemandu memanggil dan menyuruh salah satu dari dosen kuliah kami kala itu dengan sebutan "kamu!". Padahal di negara Indonesia sapaan tersebut tidak layak terhadap orang yang kita hormati. Seharusnya mereka memanggilnya dengan sebutan "ibu!". Tapi kami tentu memaklumi karena sang pemandu berada di negaranya sendiri di mana kami kala itu katakanlah jadi tamu negara mereka. Bagaimana jika sang pemandu tersebut berada di negara kita? Dapat dibayangkan bukan?

- Keberagaman Bahasa Inggris
Tiada patokan penggunaan dalam bahasa Inggris di negara Indonesia ini. Penerjemahan ke dalam bahasa Inggris yang biasa digunakan oleh warga negara Amerika Serikat atau pun juga warga negara Inggris terpakai semua di negara ini... Seperti saat kita melihat bangunan perkantoran dengan penamaan Mulia Center, sudah jelas bahwa penggunaan kata "Center" berarti menggunaan ejaan Inggris yang digunakan masyarakat Inggris. Begitu pun penamaan salah satu pusat perbelanjaan bernama Mal Taman Anggrek. Sementara di Pondok Indah lebih identik dengan penamaan Pondok Indah Mall. Yang satu penggunaan kata "mal" di depan, sedangkan satu lagi di akhiran kata, yaitu "Mall". Mengapa demikian? Karena sejak awal perkenalan di hadapan publik, nama tersebut sudah melekat di telinga kita masing - masing.
Contoh lainnya seperti kata "MRT" yang memiliki kepanjangan dari kata Mass Rapid Transit. Masyarakat Jakarta dan sekitarnya sudah terlanjur mengidentikkan dengan rangkaian KA bawah tanah, padahal di negara lain identik dengan moda transportasi penghubung antara satu rute yang kita telusuri masing - masing dengan rute lainnya meski berbeda jenis kendaraan. Di negara Amerika Serikat menyebutnya sebagai "subway" dan di negara Inggris sebagai "Under Ground".

Tidak ada komentar:

Posting Komentar