2. Kuliner Jakarta Yang Berlimpah
2. The Abundant culinary Jakarta
Propinsi DKI Jakarta yang terbentang dari Ciledug hingga Kampung Melayu pada sisi barat - timur dan dari Ancol hingga Lenteng Agung pada sisi utara - selatan memiliki segudang kisah perjalanan kuliner. Mulai dari yang berkesan sejarah seperti Es Itali Rogusa hingga yang bertaraf internasional, semua disuguhkan dalam 1 kawasan yang sekiranya mudah dijangkau dari segala penjuru dan dari segala usia. Namun, sekiranya kita patut mewaspadai dari segala bahaya laten santapan kuliner baik yang sering dan terkadang kita santap maupun yang pernah kita dengar dari mana pun.
DKI Jakarta which stretches from Ciledug to Kampung Melayu up on the west side - the east and from Ancol to Lenteng Agung in the north - south has a myriad of culinary travelogue. Starting from such an impressive history of Italian Ice Rogusa up to international standards, all served in an area in which if the easily accessible from all directions and of all ages. However, in case we should be wary of any latent dangers that are both culinary cuisine and sometimes we eat and we've heard from anywhere.
2.1. Jajanan Pinggir Jalan Yang Berbahaya
2.1. The Dangerous Roadside Snacks
Bukan bermaksud nakutin atau pun menjatuhkan popularitas dari para pedagang makanan dan minuman di mana pun, namun sering kita dengar bahwa jajanan pinggir jalan umumnya mengandung berbagai macam zat yang sangat berbahaya. Entah apa itu yang namanya formalin, boraks, pemutih deterjen, bahkan ada juga yang menggunakan (ma'af nih...) celana dalam dan juga kantong plastik. Semua itu sangat berbahaya bagi kesehatan kita masing - masing yang mengakibatkan kanker, penyakit jantung dan lain sebagainya. Berbagai narasumber saya dapat dari media massa tersiar wajah para oknum pedagang yang wajah, suara dan nama mereka disamarkan.
Not intended creeping or even dropping the popularity of the food and beverage vendors everywhere, but we often hear that a roadside hawker generally contain various substances that are harmful. I do not know what it is called formalin, borax, bleach detergent, and even some are using (pardon ...) underwear and plastic bags. All of it is very dangerous to the health of our own - one that leads to cancer, heart disease and others. Various sources I can from the mass media spread the rogue trader faces a face, a voice and their names withheld.
Seringkali saya pribadi iri apabila banyak tayangan wisata belanja pinggir jalan yang dipenuhi oleh para pelancong baik di ibukota negara maupun di beberapa kota di belahan negara mana pun itu. Jajanan tertata rapih dan tanpa segan kita yang berkunjung pun mencicipi menu - menu jajanan tersebut tanpa berpikir bahwa jajanan tersebut berbahaya tidaknya...
Often I personally envy when many impressions roadside shopping filled by travelers both in the capital and in some parts of the city in any country it is. Snacks arranged neatly and without hesitation we were visiting the tasting menu of snacks without thinking that the snacks are dangerous or not ...
2.2. Ketiadaan Menu - Menu Lokal Melainkan dari Propinsi Yang Berbeda
Siapa yang tidak mengenal ketoprak, gado - gado, ayam pop, nasi gudeg dan lain sebagainya?? Jajanan sehari - hari yang sepastinya sering kita santap khususnya sebagai WNI asli dan keturunan pun pasti tidak pernah tidak untuk menyantap semuanya itu... Tentu saja menu - menu tersebut berasal dari luar Jakarta. Namun, apa itu menu asli Jakarta?? Iya... di antaranya soto Betawi, ketoprak, kerak telor dan lain sebagainya. 1 yang saya sebutkan ini tidak lain kerak telor masih sangat langka kita jumpai. Sayangnya apabila kita ingin menyantap menu yang standar dihidangkan dengan harga yang berkisar antara Rp 5.000,00 - Rp 10.000,00 tersebut hanya bisa disantap pada saat momen - momen tetentu, seperti ulang tahun Jakarta, festival jajanan di suatu tempat, ulang tahun sebuah mal dan apapun kawasan perbelanjaannya yang mengangkat tentang khasanah Jakarta dan masih banyak lagi.
Semua ini menjadi dilema karena keberadaan menu - menu lokal Jakarta yang terasingkan dari banyaknya menu - menu luar seiring pula dengan semakin masuknya budaya luar Jakarta yang menjadi trend yang beragam.
2.3. Mudahnya Mencari Menu Yang Kita Suka
Jakarta itu surganya bagi dunia kuliner. Terbukti saat kita menjejaki tanah 'serambi' Jakarta sudah disodorkan banyak hidangan jajanan makanan dan minuman yang menyerbu setiap jengkal wilayah. Namun, di balik kemudahan itu kita selalu segan untuk menyambangi segala macam jajanan yang sepi pengunjung. Bisa jadi karena menu - menu yang dihidangkan kurang enak dari segi citarasa.
- Mini Market Mencakup Restoran Kecil
Banyak sekali sekarang mini market yang menjadi waralaba internasional yang menyodorkan kepada para konsumennya berupa sajian hidangan cepat saji dengan harga yang sedang. Mulai dari kisaran Rp 5.000-an hingga Rp 50.000-an. Sebut saja itu 7Eleven (baca = Seven Eleven) dan belakangan muncul Lawson. Para pengunjung senantiasa dimanjakan dengan pelayanan yang ramah dan fasilitas yang memadai. Kita dapat menggunakan wi-fi untuk berinternet khusunya bagi yang membawa laptop. Apalagi keduanya melayani selama 24 jam tiap harinya.
Namun, sayangnya area parkir sering terbengkalai dan fasilitas untuk mereka yang berbelanja dejngan bawaan hasil belanjaan yang banyak tidak diperhatikan. Keluar - masuk area parkir selain dijaga oleh para tukang parkir dengan tarif Rp 1.000,00 - Rp 5.000,00 tergantung wilayah dan lamanya parkir juga dihadapi oleh kemacetan yng luar biasa saat keluar - masuk parkiran. Belum lagi aspal yang berbatu yang dapat merusak ban kendaraan bermotor serta tidak diperhatikannya lahan untuk para pejalan kaki. Ramai pengunjung berarti ramai kendaraan pribadi yang berarti juga mempersempit ruas jalan raya sehingga menimbulkan kemacetan yang luar biasa dan hilangnya trotoar sebagai jalur untuk pejalan kaki.
- Bagi Yang Muslim Perlu Lebih Hati-hati
Mungkin apabila kita di negara yang mayoritas non muslim akan menemui banyak kesulitan untuk mencari menu - menu yang halal. Namun, di Indonesia justru sangat mudah mencarinya asalkan si restoran dan beberapa produk makanan kemasan yang ada berlaber "Halal". Akan menjadi masalah besar apabila para blogger sekalian yang muslim berada di lingkungan mayoritas Tiong Hoa. Tentu saja mereka menyuguhkan menu - menu babi dengan beragam hiasan ornamen bagi kebudayaannya, seperti tulisan kanji Cina dan lampu bohlamnya yang khas.
Saya sendiri mengalami saat diminta kantor untuk melakukan rapat di restoran yang tidak terlalu menonjolkan ornamen Cina. Meski mayoritas yang hadir keturunan Tiong Hoa dan pemiliknya sendiri asli keturunan Tiong Hoa, namun si koko justru dengan gampang mengatakan bahwa menu babi ada di bagian belakang. Lha...!!! Bagi saya pribadi menjadi masalah besar, namun sudah terlanjur diamanati oleh kantor demikian, maka saya dengan terpaksa menyantap hidangan yang ada meski bukan menu babi.
- Menu - menu Yang Kita Suka Terkadang Dijual Tidak Mengenal Waktu
Persaingan yang super ketat antar para pedagang membuat para pedagang tidak berhenti berinovasi baik dalam soal citarasa masakan yang ada maupun tampilan barang yang menjadi penopang hidup mereka. Kita harus berhati - hati dengan sering saja menonton berbagai tayangan baik berkisar tentang masakan maupun kriminal di tayangan - tayangan berita di TV. Melalui media - media info seperti ini semua kita pun mengetahui akan keberadaan zat - zat pengawet yang secara perlahan merusak organ - organ tubuh kita. Dijual pagi, namun di sore bahkan malam harinya juga sama... Yang seperti ini aku hindarin saja...Seperti yang saya alami saat di mana saya beberapa kali melihat jajanan bubur ayam yang didagangkan di sore hari. Padahal masakan khas pagi hari tersebut menurut narasumber - narasumber di berbagai media massa seringkali dicampur dengan zat putih yang tidak lain bisa saja boraks... Kecurangan seperti ini konon membuat diri kita terserang kanker... Namun, kita boleh percaya atau tidak... Semua kita kembalikan lagi khususnya kepada para blogger sekalian... Apakah menganggap si penjual bubur ayam yang biasanya keliling di komplek perumahan A itu murni dijual tanpa pengawet yang berbahaya atau justru malah iya... terserah kita masing - masing yang menilai... Begitu pun kasus jajanan makanan dan minuman lainnya...
- Penyajian Nasi Yang Beragam
Orang - orang Indonesia yang pada umumnya Pribumi pasti akan selalu memakan nasi sebagai santapan utama harian yang ada... Namun, di kebayakan wilayah tidak terkecuali di ibukota Jakarta nasi di rumah - rumah makan baik pinggir jalan maupun berwujud restoran tradisional pasti akan selalu menyajikan nasi sebanyak 1 porsi. Namun, dalam kenyataan yang ada justru 2 porsi bagi kita akan tetap dianggap 1 porsi bagi para pelayannya. Kebanyakan perempuan meminta agar nasinya 1/2 saja yang berarti sama juga 1 porsi. Berbeda dengan restoran - restoran waralaba barat yng salah satunya milik Amerika Serikat seperti Mc. Donald's yang sudah pasti 1 porsi yang ada dijatahi amat sedikit yang memang benar - benar 1/2 porsi.Di sinilah dari pengalaman yang ada dalam kehidupan kita sehari - sehari sebaiknya selama berada di ibukota Jakarta kalau pesan 1 porsi nasi apabila berada di rumah - rumah makan tersebut harus bilang 1/2 saja agar benar - benar diberi 1 porsi bagi kita.
- Pelancong Tidak Perlu Kuatir Mencari Lokasi Kuliner
Setiap orang pasti tidak akan puas dengan segala info masukan yang itu - itu saja... Terlebih persoalan kulineri di setiap waktu. Kepada para blogger sekalian yang setidaknya di Jakarta hanya dalam tempo yang sesingkat - singkatnya saja antara 2 - 7 hari atau lebih - lebih sedikit, maka beberapa pilihan lokasi setidaknya dapat menjadi panduan tepat....1. Bagi Yang Menginap di Hotel atau pun Apartemen
Sepadat - padatnya aktifitas para warga ibukota Jakarta setidaknya tidak begitu membuat kekusutan rute perjalanan bagi para pelancong di jam - jam tertentu. Jelas sekali di antara kita yang mengalami liburan ke luar kota, bahkan luar negeri sekali pun pasti pada umumnya apa yang dilakukan kita selama di dalam hotel terlebih dahulu bersarapan antara jam 6 - 8. Di atas jam 8 itulah pada umumnya orang kantoran sudah di dalam kantor masing - masing dan tempat - tempat hiburan buka di jam 9 ke atas.
Siang kita di tempat wisata yang sudah terencana dan sore pun tinggal menunggu waktu untuk menuju kembali ke hotel agar di malam harinya bisa melakukan sesi santap malam baik tetap di dalam hotel maupun di luar hotel. Berlaku juga bagi yang menginap di apartemen. Di malam hari itulah pada umumnya para pelancong seperti para blogger sekalian memilih restoran atau pun tempat jajanan yang terdekat.
Betapa macetnya ruas jalan raya di ibukota Jakarta... Keluar dari lokasi di mana kita berada sudah mengalami kemacetan yang luar biasa sehingga sulit mencari sela dari barikade kemacetan arus kendaraan bermotor yang ada. Namun, kebanyakan hotel berbintang 3 - 5 di Jakarta sudah menyiasati diri agar segala kendala yang ada dapat tertangani. Beberapa hotel seperti hotel Sahid Jaya Jakarta menempati posisinya di Jl. Jendderal Sudirman sisi barat sehingga saat jam pulang kerja kantoran umumnya arus kendaraan bermotor berlaju dari arah Bunderan HI ke arah Semanggi dan seterusnya. Ada pula hotel The Sultan yang memiliki 2 pintu keluar - masuk dapat melalui akses sisi Jl. S. Parman yang berada di sisi utara.
.................
2. Bagi Yang Menginap di Rumah Keluarga atau pun Teman
Katakanlah di Jakarta hanya sekedar mengunjungi sanak famili atau pun relasi yang kita kenal dengan jngka waktu yang cukup singkat... Itu berarti bersiap saja mendapati jamuan yang lebih yang tidak sekedar disambut kedatangan kita oleh sang tuan rumah... Bersiaplah di malam hari agar tidak membuang waktu yang membosankan jika memang diberi waktu luang untuk menikmati hidangan kuliner... minimal di dalam rumah mereka masing - masing. Namun, jikalau saja pilihan jatuh pada sebuah ruamh makan, dipastikan bisa saja dengan mengendarai mobil atau pun motor sang pemilik rumah akan menemui kemacetan di beberapa ruas jalan. Itulah kota Jakarta...
Lain halnya jika menikmati jamuan santap malam yang dekat - dekat saja dengan rumah... Dipastikan banyak sekali jajanan yang berlimpah di rumah rumah mereka. Tidak terkecuali seminimal mungkin, yaitu nasi goreng, ketoprak, gado - gado dan nasi uduk. Tidak mungkin selama kita menginjakkan tanah 'serambi' Jakarta tidak menemui semua itu...
2.4. Komposisi Menu Yang Beragam
Aku rasa enggak cuma di Indonesia saja yang menu - menu makanan bahkan minumannya bisa dipilih berdasarkan komposisi yang kita suka. Di ibukota Jakarta khususnya menu - menu itu terdapat di beragam tempat baik di jajanan pinggir jalan, di warung makan, di restoran bergengsi dan di mana pun. Menu - menu komposisi tambahan tersebut tentu saja menambah biaya pengeluaran kita makan atau pun juga minum. Pada umumnya, sajian kuiner tidak jauh dari yang namanya daun sawi, bawang goreng dan tentunya nasi atau pun juga mie. Adapun menu - menu seperti tahu, tempe, sate, telur bulat dan lain sebagainya menjadi menu - menu komposisi tambahan.
Makanya wajar jika si penjual berkata "Mau pakai apa saja?" dan juga terkadang "Apalagi?" karena harga tidak dijadikan 1 menu melainkan berbeda sendiri kisaran antara Rp 1.000,00 s/d Rp 5.000,00 untuk 1 buah saja baik itu tempe gorengnya saja, tahu gorengnya saja, 1 tusuk satenya saja, dll...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar