1.2. Perlu Pendamping Dalam Pengelanaan
Sudah sepastinya to the point saja bahwa Jakarta jadinya tidak aman dan nyaman untuk para turis yang merasa ingin bebas lepas mencari kenikmatan dalam bertransportasi. Apalagi mereka yang cuma beberapa hari saja berada di Jakarta dan sekitarnya. Mungkin 1 yang menjadi kawasan termudah mencari akses yang dijangkau ke mana pun para turis berkelana khususnya backpacker, yaitu di Jl. Jaksa kotamadya Jakarta Pusat. Di sinilah mayoritas turis berkulit putih yang didominasi para backpacker dari negara Belanda, Perancis, Australia, Selandia Baru dan lain sebagainya menginap.
1.2. Need Assistance In the Wandering
Certainly to the point that Jakarta would not be safe and comfortable for the tourists who want to feel free to seek out pleasure in bertransportasi. Moreover, they are just a few days in Jakarta and surrounding areas. Perhaps one of the easiest to find affordable access to any backpacker tourists traveling in particular, Jl. Jaksa municipal of Central Jakarta. This is where the majority of white tourists who dominated the backpacker from the Netherlands, France, Australia, New Zealand and others stay.
Namun, dalam realitas menghadapi kemelut Jakarta memang perlu pendamping yang benar - benar mengetahui seluk - beluk kota Jakarta meski tidak 100% murni hafal. Ketidak amanan itu dapat kita lihat seperti berikut ini :
However, the crisis facing the reality of Jakarta is a companion to the right - really know the ins - and outs of the city, though not 100% pure memorized. Insecurity that can be seen as follows:
* Banyak Pencopet Dengan Berbagai Modus
* Many of Pickpockets With Various Modes
Keberadaan Polisi, Satgas dan apapun bentuk kesatuan para petugas keamanan tersebut tidak sepenuhnya dapat memantau kita yang berada di luar tempat tinggal bahkan penginapan kita berada. Apalagi negeri ini semakin disemarakkan dengan isu SARA, ormas, etnis, ras dan etnik yang tidak mengenakkan. Tips yang sekiranya dapat menjadi solusi untuk menghindari ini semua, yaitu jangan mudah meladeni orang - orang yang menegur kita apalagi langsung bertatap muka dengan pelaku. Apabila terpaksa, maka kita bilang saja "Aduhh... saya tidak tahu yah...". Kalau turis asing yang tidak mampu berbahasa Indonesia minimal cukup dengan berkata "Sorry..." sambil mengacungkan kelima telapak tangan kiri atau pun kanan kita sambil beranjak.
The presence of police, Task Force and any form of union security officers are not fully able to monitor our outside residential accommodation and even we are. Moreover, the country is more lively with racial issues, organizations, ethnic, racial and ethnic uncomfortable. Tips that can be a solution to avoid this at all, which is not easy to wait on people - especially people who admonish us directly face to face with the perpetrator. If forced, then we just say "Ouuww ...I don't know well ...". If the foreign tourists who are not able to speak Indonesian at least enough to say "Sorry ..." holding up his fifth left hand or right of us, getting up.
- Modus Hipnotis
- Mode Hypnosis
Cara seperti ini sangat beragam. Mulai dari tatapan muka kita hingga rujukan ke suatu tempat yang kesemuanya itu membuat seisi barang berharga kita terkuras dalam hitungan yang singkat. Banyak yang sudah tahu tetapi masih banyak yang mengindahkan cara yang menyesatkan seperti ini karena pada umumnya mereka cuma mendengar dari sanak kerabat yang pernah menjadi korban.
This way is very diverse. Starting from the front of our eyes to a referral to a place that makes all the rest of our valuables depleted in a matter of time. Many already know, but there are still many who regard such a way that is misleading because in general they just heard from relatives who have been victims.
- Modus Pembiusan di Air Minum
- Mode of anesthesia in Drinking Water
Cara seperti ini paling banyak yang menelan korban khususnya masyarakat Pribumi yang menggunakan transportasi publik yang berdatangan dari luar kota Jakarta dan ada juga yang dalam rangka pulang kampung. Cara seperti ini biasanya mereka ditegur oleh seseorang yang mengaku ingin sekedar berkenalan karena kebetulan 1 bangku di terminal, di stasiun atau pun di dalam bus. Lamanya menunggu bus berangkat atau pun juga lamanya perjalanan di dalam bus biasanya dimanfaatkan oleh para pelaku dengan memberi minuman secara gratis.
In this way most of which cost the lives of Indigenous people in particular who use public transport to arrive from outside the city of Jakarta and some are in order to return home. In this way they are usually greeted by someone who claims to want to just meet by chance a seat in the terminal, at the station or on the bus. The length of waiting for the bus or else go the length of the journey on the bus is usually used by the perpetrators by giving free drinks.
- Modus Pemaksaan
- Mode Coercion
Di lahan yang cukup sepi biasanya para pelaku beraksi dengan terang - terangan di hadapan korban. Biasanya para pelaku melakukan cara penodongan dengan senjata tajam. Ada pula yang menggunakan senjata api sehingga jiwa kita terancam. Sudah tidak asing lagi di kalangan pelajar terjadi di antara sesama pelajar yang berbeda sekolah.
In the usually quiet enough land perpetrators in action with bright - patently in the presence of the victim. Usually the actors perform the way hold-up with a sharp weapon. There is also the use of firearms so that our souls are threatened. It is not foreign to the students occurred among students of different schools.
Saya mengalaminya saat di Jl. Meruya Raya saat 2 pengendara motor meminta saya sebagai saksi mata untuk mencari pelaku kriminal yang telah melukai sanak kerabatnya yang berperawakan mahasiswa tersebut. Merasa tidak pernah mengetahui asal - muasal kejadian tersebut, saya meminta ma'af dengan terus beranjak. Si pelaku tetap menyampari saya dengan membentak menggunakan kalimat - kalimat yang kasar. Karena diri saya merasa terancam, untung saja di depan saya terdapat pertigaan yang dijaga beberapa anggota Polisi. Sayangnya saat saya melapor ke salah satu Polisi yang ada justru saya tidak menghafal plat nomor dari si motor yang dikendarai sang pelaku.
I experienced this while on Jl. Meruya Raya (Jl. Meruya Kingdom) when two bikers ask me as an eyewitness to locate criminals who have injured relatives student boned relatives. Feel never know where - genesis event, I asked apologized to continue growing. The actors keep visited me snapped using harsh sentences. Because me feel threatened, fortunately there is the T-junction in front of me who kept several members of the Police. Unfortunately when I reported to the police that there is one fact I did not memorize the license plate of the motorcycle driven by the offender.
Saran saya > Jika mengalami kejadian yang serupa, maka jangan memainkan emosi meski para blogger sekalian sudah pernah terbiasa di kota di mana para blogger tinggal baik di Indonesia maupun di negara lain. Perbedaan yang mencolok jelas terlihat dari perawakan para pelaku. Di negara lain mungkin apabila menghajar korban akan dibawa ke pengadilan, namun di Indonesia bukanlah pengadilan di sebuah ruangan persidangan yang disertai hakim dan jaksa melainkan warga masyarakat yang langsung menghakimi kita meski kita sendiri justru korban dari si pelaku kriminal. Diri kita akan dihajar hingga terluka parah dan yang paling mengenaskan, yaitu dibakar hidup - hidup.
My advice> If you experienced something similar, then do not play the emotion despite all the bloggers had been accustomed to in the city where the blogger living in Indonesia and in other countries. A striking difference is clearly visible from the stature of the participants. In other countries where beating victim might be brought to justice, but in Indonesia, not in a court room trial with judges and prosecutors but direct citizens to judge us on our own despite the fact the victims of criminals. Ourselves be beaten up severely injured and most pathetic, is burned.
- Modus Ketiadaan Uang Karena Tersesat
- Mode absence Lost Money Due
Para pelaku kriminal tidak hanya cuma faseh berbahasa Indonesia dan daerah mereka masing - masing, namun banyak yang 'cekatan' dalam melakukan aksinya itu yang salah satunya dengan bertanya ke mana arah yang hendak ditujunya itu. Biasanya cara seperti ini diawali dengan raut wajah yang lelah sambil bertanya arah yang dituju. Saat kita sudah bersusah payah memberi tahu arah yang tepat, namun si pelaku justru mengaku baru saja kecopetan dan tiada uang sama sekali. Nah...!!! Apabila sudah terjadi demikian, maka jangan merasa iba meski perawakannya memang orang yang layak untuk dikasihani. Sebaiknya hindari saja secepat mungkin.
The criminals are not only just able to speak Indonesian and their regions - each, but many of the 'workmanlike' to engage in action that one by asking which direction it headed want. Normally this way begins with a tired look on his face as he asked the intended direction. When we've taken the trouble to tell the right direction, but the actor recently admitted it kecopetan and no money at all. Well ...!!! When it is the case, then do not feel sorry for the person though stature it deserves to be pitied. But avoid it as quickly as possible.
Peristiwa yang pernah saya alami saat keberadaan saya di depan gedung Sarinah Jl. MH. Thamrin yang mana seorang bapak yang baru datang dari luar kota turun dari rangkaian kereta api di stasiun Gambir. Dirinya mengaku berada di depan gedung Sarinah setelah seisi tasnya dirampas. Meski perawakannya terkesan orang kaya, namun saya tidak yakin 100%.
The events I have ever experienced at where I am in front of the Sarinah Jl. MH. Thamrin in which a father who was coming from out of town down a series of Gambir railway station. He claimed to be in front of the Sarinah after the whole bag stolen. Although stature impress the wealthy, but I am not 100% sure.
- Modus Memanggil Korban (Baca = Diri Kita Sendiri)
Cara seperti ini juga kerapkali dilakukan para pelaku kriminal di mana pun si korban berada. Saya kuatir sebagai turis, cara seperti ini mudah dikelabui begitu saja. Mungkin seringkali terdengar agak samar seseorang tersebut menyapa nama diri kita. Begitu ditengok ternyata bukan, maka kita lekas menghindar dengan terus berjalan kaki sejauh mungkin.
Tips dari saya > Jangan menyahut saat nama kita disebut atau pun saat pelaku memanggil diri kita. Tengoklah ke arah di mana pelaku memanggil kita. Jika wajahnya asing alias tidak kita kenal, maka lalui saja dengan terus berjalan kaki jika kita berada di kawasan yang sepi. Beruntung jika itu di kawasan ramai pengunjung karena biasanya para pelaku kriminal urung melakukan tindakan kriminal jika tidak ingin dihakimi oleh masyarakat.
- Modus Menabrakkan Diri
Mungkin bukan cuma di Indonesia saja cara seperti ini dilakukan oleh para pencopet... Terlebih di ibukota Jakarta banyak sekali para pelaku kriminal melakukan tindakan seperti ini dengan cuma sekedar meminta ma'af jika si pelaku merasa bersalah karena berlari terlalu mengejar waktu yang terbuang. Tanpa disadari kita yang sebagai korban telah kehilangan minimal dompet atau pun handphone yang bagi kita amat sangat vital itu. Maka dari itu, saya sangat menyarankan ke mana - mana tidak perlu membawa passport atau pun juga visa selama berada di lingkungan ibukota Jakarta selain berada di penginapan.
* Hindari Membawa Barang - barang Berharga
Apabila para blogger sekalian datang ke kota Jakarta sebagai pelancong, pebisnis, pendatang baru dan warga biasa yang hanya sekedar berkunjung ke sanak famili dimohon untuk tidak membawa barang - barang yang sangat berharga, seperti kalung, uang yang berlimpah (lebih baik ambil uang di mesin ATM saja jika terpaksa), handphone yang mahal dan apapun itu bendanya sebab akan menarik perhatian para pelaku kriminal di mana pun keberadaan mereka. Apalagi khususnya para wanita mengenakan setelan busana yang dapat mengundang hasrat para kaum pria. Ibu, mbak, ade dan empo sekalian telah salah memilih kendaraan umum jika menaiki kendaraan seperti bus kota, angkot dan KRL Ekonomi. Selain mudah menjadi 'santapan' para pelaku kriminal karena paras wajahnya yang cantik dengan busana sedemikian seksinya, yang paling mereka pandangi, yaitu dari segi keuangan si perempuan tersebut. Sudah pasti akan berpikir si perempuan memiliki uang yang banyak.
- Tidak Usah Mengenakan Backpack
Tas yang melebihi beban sudah pasti akan mengganggu ruang gerak angkutan umum yang ada. Lain cerita bila para blogger sekalian baru saja tiba dari luar kota dengan rangkaian kereta api jarak menengak dan jauh, pesawat, bus antar kota antar propinsi / AKAP, mobil travel dan lain sebagainya. Begitu tiba di hotel tempat kita menginap, di rumah tinggal sanak famili kita, di motel dan apapun itu bangunan kita selama bermalam di ibukota Jakarta, maka tas dengan barang bawaan yang banyak tersebut disimpan saja sementara waktu. Bawalah peralatan yang sekiranya penting dan cukup penting saja untuk berkelana di ibukota Jakarta.
- Waspada Jika Hendak Mendokumentasikan Suatu Obyek di Area Tertentu
Ibukota Jakarta mungkin tidak seramah di kebanyakan kota - kota kecil di Indonesia. Para blogger sekalian khususnya yang hobi travelling mungkin 'terpaksa' memilih tujuan berikutnya ibukota Jakarta karena memang sudah tersusun rapih kalau tujuan selanjutnya itu kota Jakarta. Beberapa kawasan yang rawan tindakan kriminal itu banyak sekali. Mungkin tidak perlu saya sebutkan di situs ini, tetapi kita sudah tahu lha... di mana saja itu... Tustel, handphone, laptop dan apapun itu medianya lebih aman di kawasan - kawasan tertentu yang lingkungannya tergolong mayoritas masyarakat kalangan menengah ke atas. Jika berada di pasar induk, stasiun - stasiun komuter, terminal bus dan sekitar perumahan kumuh, maka akan terkesan komplek masyarakat menengah ke bawah dan tentu saya sarankan perlu pendampingan minimal 1 orang untuk ikut berkelana.
Keterangan :
Dikalangan menengah ke atas pun seperti di mal, plaza, square dan apapun itu namanya bukan berarti terjamin keamanannya 100%, tetapi kita harus tetap waspada karena kejahatan bisa terjadi di mana saja...
* Jangan Salah Dengan Lokasi (Baca = Hati - Hati)
Merasa dekat dengan kawasan ini semisal dari hotel karena alasan sudah banyak dicoba di banyak negara, bahkan negara sendiri, itu bisa saja salah besar dan menjadi malapetaka besar selama para blogger sekalian berada di ibukota Jakarta. Banyak sekali kawasan yang sekiranya menggiurkan yang siap untuk dikunjungi meski sebagai turis sekalipun. Namun, hati - hati jika berhadapan dengan sesuatu yang dapat menyesatkan para blogger sekalian.
- Kondisi Trotoar dan Penataan Bangunan Yang Semrawut
Banyak sekali kondisi trotoar yang tidak layak untuk dijadikan lahan pejalan kaki karena banyak alasan. Alasan yang terlihat jelas manakala kondisinya sudah memprihatinkan penuh dengan bebatuan, terhalang beton tembok, tiang listrik, warung - warung tenda jualan dan lain sebagainya. Yang seperti ini seringkali membuat para pejalan kaki enggan berjalan kaki dengan beralih ke kendaraan bermotor yang tentu semakin menambah kesemrawutan lalu lintas di jalan raya.Meski ramai pengunjung karena ada dagangan pasar, karena ada obral, karena ada yang menggiurkan untuk dibeli dan lain sebagainya sebaiknya dihindari saja.
- Rawan Kerusuhan Massal (Tawuran Pelajar, Tawuran Antar Pendukung Olah Raga, Tawuran Antar Pendukung Partai, Demonstrasi Anarkis, dll)
BERSAMBUNG....
Tidak ada komentar:
Posting Komentar