Kamis, 16 Agustus 2012

Hal. 6 > Disiplin Masyarakat

Hal. 6
4. Disiplin Berlalu Lintas di Jalan Raya
4. Passed Discipline Cross the Road
Dalam beraktifitas di jalan raya, kita berjibaku dengan getirnya laju kendaraan bermotor dengan aneka suara mesin yang menderu serta bunyi klakson yang seakan tiada hentinya menghentakkan telinga kita seakan di antara mereka atau kita yang berkendara merasa di pihak yang benar dari kekusutan yang ada di jalan raya. Belum lagi dengan bertebarannya asap knalpot yang seakan memicu emosi kita yang semakin labil karena terpolusikan oleh deru mesin kendaraan yang ada.
In the activity on the highway, we are struggling with the bitter pace vehicle with various engine sound roaring and honking incessantly as if our ears as stomping them or we were driving feeling on the right side of the tangle that is on the highway. Not to mention the spread of exhaust fumes that seemed to trigger the emotions of our increasingly unstable due to exposure to pollution by the roar of the engines of vehicles available.
Dalam berlalu lintas, tentu kita dituntut untuk bersabar karena lamanya waktu tempuh perjalanan selalu tergantung oleh kondisi keadaan di ruas jalan dan tingkat disiplin si pengendara tersebut. Kita tidak saja sebagai pengguna kendaraan bermotor yang notabene selalu menginjakkan gas dan rem sebagai modal utama dalam berkendara melainkan juga seringkali dituntut sebagai penumpang. Kita selalu memasrahi keadaan jika seluruh nyawa dan kekuatan yang kita miliki sepenuhnya tergantung oleh mesin bertamengkan besi diputari oleh sang ban karet tersebut.
In traffic, of course, we are required to be patient because of the length of travel time required always depends on the situation on the road conditions and the driver is the level of discipline. We are not alone as motorists who incidentally has always set the gas and brake as the main capital in driving but also often required as a passenger. We always resigned to the situation if the whole of life and power that we have entirely dependent on the iron-plated machine run by the rubber tires.

4.1. Kawasan Macet dan Langganan Penilangan oleh Polisi
Sekilas kata "macet di jalan raya" sudah lumrah terjadi di kota mana pun di Indonesia, bahkan juga di luar negeri. Namun, apakah suatu kemacetan yang disebabkan oleh kekusutan arus kendaraan bermotor selama berjam - jam banyak terjadi di luar negeri? Ini suatu pertanyaan besar di mana dan kapan saja itu terjadi. Merekalah yang pernah merasakan suasana kota di luar negeri tentunya yang dapat menceritakan itu semua...
- Dikala Jam Pergi dan Pulang Kerja
Tidak aneh lagi dikala kita berangkat kerja sudah pasti dituntut oleh semua perusahaan di mana kita kerja harus masuk di jam 8 pagi dan ada pula yang jam 9 pagi. Lebih dari itu akan diancam pemotongan gaji atau pun seminimalnya uang makan siang. Tapi apa daya kemacetan bukan kita yang inginkan, namun situasi yang sedemikian rumitnyalah yang terjadi. Semua berbondong - bondong keluar dari tempat tinggal manakala kita selesai sarapan, menonton berita di TV dan mandi. Khusus para blogger yang sekedar berwisata sebaiknya hindarin angkutan umum mana pun yang searah dengan arus kendaraan bermotor yang menuju ke arah perkantoran, pertokoan, pasar, gedung - gedung pemerintahan dan lain sebagainya. Apabila hendak bersarapan sebaiknya di luar kawasan di mana kita menginap apabila para blogger sekalian berada di Jakarta untuk menginap.
Menjamurnya restoran, bakeri, bahkan mini market yang menyajikan menu sarapan dan memang melayani selama 24 jam sekalipun membuat mesyarakat yang memiliki uang banyak berbondong - bondong memadati bangunan - bangunan permanen tersebut senantiasa mengalahkan bangunan - bangunan semi permanen atau pun lapak jajanan kaki lima di pinggir jalan sekalipun. Semua mudah diakses selama kita berada di propinsi ibukota negara RI ini.
1. Sebaiknya Hindari Berwisata di antara Jam 6 Pagi - 9 Pagi
Perlu diketahui bahwa kebanyakan kawasan perbelanjaan, taman hiburan, gedung - gedung bioskop XXI, restoran, museum dan lain sebagainya baru buka minimal jam 9 pagi. Di saat inilah waktu yang tepat untuk menggunakan ruas jalan raya yang searah dengan pergi kerja. Semisal kita menginap di hotel Ciputra yang berlokasi di Jl. S. Parman hendak menuju ke museum Fatahillah. Meski dengan mengandalkan bus Trans Jakarta dari halte busway Jelambar, namun justru di antara jam 6 pagi s/d jam 9 pagi masih terlalu padat untuk kita naiki karena bus tersebut akan berlaju ke arah rute pergi kerja. Kemungkinan yang terjadi jumlah armada busnya sedikit yang beroperasi.
Lain cerita apabila para blogger sekalian menginap di beberapa penginapan (hotel, losmen, motel, dll) di kawasan Jakarta Pusat. Kotamadya ini sudah menjadi kawasan sentra dari kedatangan arus kendaraan bermotor untuk berkantornya mereka yang pekerja kantoran. Jadi, kemacetan yang terasa akan tidak terlalu parah ketimbang kita yang menginap di kawasan kotamadya Jakarta Barat, Jakarta Selatan dan Jakarta Timur apalagi berada di kawasan pinggiran Jakarta baik itu di kota Tangerang, Bekasi, Cibubur, Serpong maupun di mana pun.
2. Bersabar dengan Kekusutan Arus Kendaraan Bermotor
Bukan ibukota Jakarta kalau tidak mengalami kekusutan ruas jalan raya yang ada. Biasanya yang menyebabkan kekusutan tersebut dikarenakan aurs kendaraan di depannya tertahan oleh arus kendaraan lain sehingga mengekor ke barisan paling belakang yang tidak tahu di mana letaknya...  Bisa saja kemungkinan tertahan oleh banyaknya kendaraan bermotor yang terparkir hingga beberapa lajur jalanan yang ada, karena pertigaan atau pun prapatan dengan lampu merah yang terlalu lama, banyaknya angkutan umum yang berhenti terlalu lama, tertahan oleh sempitnya badan jalan oleh warung - warung tenda PKL / pedagang kaki lima dan masih banyak lagi.
Apabila para blogger sekalian menggunakan alat secanggih apapun seperti GPS pun tidak akan membantu. Sebab 1 ruas jalan terkendala macet, berarti ruas jalan lainnya kemungkinan besar akan terkena dampaknya.
3. Jangan Memudahkan Cara Melalui Jalan Tikus
Kebanyakan kendaraan bermotor memilih ruas jalan alternatif yang ternyata banyak yang tidak dan kurang membantu mempersingkat waktu di tengah himpitan kemacetan. Jalan tikus, begitu masyarakat di Indonesia menyebutnya... Ruas jalan komplek perumahan terpencil ini notabene berada di lingkungan perumahan kumuh atau pun komplek real estate. Sebaiknya cara seperti ini harus kita hnidari karena akan mempersempit ruang gerak warga sekitar komplek tersebut yang hendak beraktifitas baik berdagang dengan gerobak, berjalan kaki maupun dengan minimal sepeda motor masing - masing. Kemungkinan lainnya akan berdampak kekusutan arus kendaraan bermotor yang lebih besar seiring pertemuan antara pertigaan atau pun prapatan dadakan yang hanya diatur oleh beberapa orang yang biasa kita kenal dengan sebutan "pak oga". Dengan menarik uang recehan sebagai jasa imbalan mereka itu, mereka banyak yang memihak kepada arus kendaraan bermotor yang lebih sulit untuk diatur posisi untuk mempersingkat jalan.
Pak oga lebih memilih arus kendaraan bermotor yang hendak berbelok atau pun berbalik arah karena di mana pun kendaraan bermotor yang hendak berlaju di jalur yang lurus lebih berhak untuk berlaju terlebih dahulu.
- Dikala Musim Kemarau dan Musim Hujan
Di saat musim kemarau memang saat yang tepat kita mengenakan kacamata hitam dan berbusana kaos tanpa lengan dan celana pendek. Apalagi di antara para blogger sekalian keturunan orang kulit putih akan tampak sedikit dihormati oleh kebanyakan masyarakat sekitar. Karena mereka masih berpikiran keturunan kulit putih masih keturunan Londo (sebutan mereka yang mengalami masa penjajahan Belanda). Namun, berbeda jika di musim hujan.... Banjir yang menggenangi ruas jalan, trotoar, rel kereta api, landasan pacu pesawat dan taman kota sekalipun tentu merugikan masyarakat karena semua perabot tergenang hingga merusak komponen elektronik atau pun juga perabot furniture. Di perjalanan, selain gangguan sinyal pada perjalanan kereta api banjir juga meresahkan para pengendara motor yang dengan terpaksa harus menepikan motor mereka di bawah jembatan penyeberangan, di bawah pohon, di bawah tiang reklame dan di bawah mana pun. Hasilnya dapat terlihat jelas, yaitu penyempitan ruas jalan yang tadinya semisal memiliki 4 lajur jadi hanya tersisa 1 lajur saja.
- Dikala Suasana Makan Siang
Warga masyarakat klas menengah ke atas umumnya didominasi oleh para Direktur, Komisaris dan Manajer menyertakan mobil pribadi masing - masing untuk menjangkau beberapa restoran yang hendak dituju. Hasilnya terlihat jelas bahwa kemacetan terjadi di mana - mana. Lahan parkir dalam waktu singkat menjadi sempit oleh banyaknya kendaraan bermotor. Berbeda bagi kita yang menjabat sebagai pegawai rendahan sudah pasti makan siang di restoran hingga lapak PKL / pedagang kaki lima yang menyodorkan berbagai macam menu dengan harga yang relatif rendah dan sedang kisaran Rp 6.000,00 per orang hingga Rp 15.000,00 per orang setiap hari kerja.
- Waspada 'Pola Permainan ' Oknum Kepolisian
Tanpa ingin merendahkan institusi terkait, perlu diketahui bahwa para oknum Kepolisian banyak melakukan 'pola permainan' yang tercela di lapangan. Terlebih terhadap kita yang menjadi penguasa jalan raya karena sedang berkendara dengan kendaraan pribadi. Tanpa harus menyebutkan di mana saja lokasi yang ada pula, tentu para blogger sekalian akan mengetahui segimana parahnya dalam menilangi kita apabila dikatakan melanggar rambu - rambu lalu lintas. Pelanggaran itu akan terpuji mereka lakukan kalau saja memang benar - benar dari kita sendiri memang melanggar peraturan yang ada.
1. Lampu Kuning pada Lampu Lalu Lintas Yang Tanggung
Di ruas jalan raya memang seringkali kita lakukan sebagai para pengendara kendaraan bermotor menerobos lampu lalu lintas yang sudah menyala warna merah di sebuah prapatan atau pun pertigaan. Ini dikarenakan bagi kita masih tanggung. Namun, ada kalanya lampu masih menyala warna kuning bagi para oknum Kepolisian merasa sudah harus berhenti. Apabila tetap kita terobos meski masih menyala kuning, maka kita akan disuruh berhenti dan menepi. Penilangan pun terjadi.
2. Sedikit Melanggar Garis Stop Saat Lampu Lalu Lintas Menyala Merah
Memang benar adanya garis stop itu menjadikan garis batas kendaraan bermotor untuk berhenti di setiap prapatan atau pun pertigaan bahkan di ruas jalan raya untuk penyeberangan para pejalan kaki. Banyak sekali pada kenyataan yang ada para pengendara kendaraan bermotor memberhentikan laju kendaraan yang mereka kemudikan itu berhenti melebihi batas garis stop. Terlebih mereka pengendara motor, pengendara angkutan umum dan pengendara mobil pribadi sekalipun.
Namun, apabila si kendaraan bermotor berhenti hanya sedikit saja melebihi garis stop dapat dikatakan pelanggaran berat dengan harus dihukum tilang? Kita kembalikan lagi kepada diri kita sendiri seberapa salahnya perbuatan kita itu. Tetapi asal tahu saja, para blogger sekalian sudah pasti akan mengalami banyak penyaksian di mana di kebanyakan prapatan dan pertigan bahkan di ruas jalan raya untuk penyeberangan para pejalan kaki banyak yang tidak memiliki garis stop dikarenakan banyak alasan, seperti terhapus catnya, sering tergores oleh ban - ban kendaraan bermotor dan hanya sebatas garis lurus sebagai batas lajur.

4.2. Sulitnya Mematuhi Rambu - rambu Yang Ada

Pernahkah para blogger sekalian di saat berkendara dengan kendaraan yang kita masing - masing kemudikan berinstropeksi diri kalau diri kita sendirilah yang seharusnya bersalah?? Mungkin itu menjadi jawaban yang beragam yang mayoritas dijawab dengan kata "tidak". Seberapa gilanya para pengendara kendaraan bermotor yang Anda sekalian persalahkan itu dalam berkemudi di jalan raya? Tidak saja di jalan raya, tetapi juga di trotoar jalanan, di jalan kecil, di jalan kompleks dan lain sebagainya.
- Selalu Menyalahkan dan Dipersalahkan
Suatu fenomena yang tidak pernah punah ditelan zaman dan teknologi dikala masyarakat di mana pun kotanya terlebih di ibukota Jakarta ini saling berbaur satu sama lain antara yng 'buta' teknologi dengan 'buta' kedisiplinan dan kesahajaan yang selalu digenggam erat oleh kebanyakan masyarakat yang beraneka ragam suku dan bangsa ini. Di kota besar, sulit kita temui keterpandangan sosok umat manusia itu di mata umum.
Di jalanan terlebih, kita selalu dikejar oleh beragam aktifitas yang senantiasa dituntut untuk berpacu dengan waktu, ruang dan tenaga. Tanpa ruas jalanan tiada kata aktifitas melainkan hanya di bawah naungan di mana kita berdiam diri tanpa banyak mengetahui dunia luar. Dijalanan kita berjibaku dengan ganasnya si raja jalanan, ratunya para pengguna jalan dan para penguasa dari golongan mana pun tanpa memandang siapapun itu.Selalu menyalahkan dan diprsalahkan... Itulah yang sering kita lihat sehari - hari dalam berkendara di ruas jalanan ibukota Jakarta.
1. Pasrah Jika Ditabrak dari Arah Mana Pun
Mau apapun latar belakang kita, karakter kita, dari kalangan mana pun kita dan apapun diri kita, jika sudah berhadapan dengan situasi yang genting seperti ini sudah sewajarnya kita harus memasrahi diri kita untuk mencari kebenaran yang semu. Saksi mata hanyalah yang berangkutan dengan kita yang berarti yang bersama kita dalam hal ini dalam berkendara. Orang sekitar hanya menonton dan membantu menyelesaikan perkara yang tiada penyelesaiannya selain ke aparat keamanan. Itu pun hanya menjadi penengahnya saja dan semua saling membela diri.
Dari pihak si penabrak, alangkah sangat baiknya engakui kesalahan atas perbuatannya itu. Namun, sulit sekali ditemui di negeri ini. Seolah - olah pengendara kendaraan bermotor sangat sulit dihargai oleh orang sekitar ketimbang negara - negara lain seperti Singapura dan entahlah Malaysia juga.
2. Pasrah Jika Menabrak Kendaraan Bermotor
Merasa diri kita bersalah... Apakah kesalahan itu akan selalu ditumpahkan ke orang lain? Semata demi menyelesaikan kasus yang tidak jelas kapan selesainya. Di posisi yang terjepit seperti ini biasanya diri kita merasa yang paling benar...
Saya sering mengalaminya ketika menaiki angkutan umum yang ada, seperti di dalam bus Kopaja 16 Tanah Abang - Ciledug saat hampir menabraki pengendara motor. Saya saksiin si sopir yang ugal - ugalan justru menyalahi si pengendara motor yang langsung menyalip begitu saja. Spontan para penumpang Kopaja pun iktu membela sang sopir bus kecil yang kami tumpangi itu. Belum lagi saat di dalam bus Trans Jakarta Koridor 3 saat di Jl. KH. Hasyim Ashari tubuhku sampai terpental ke lantai. Tiada kata ma'af dari mulut sang penjaga pintu bus dikala kondisi punggungku agak sakit. Tapi yah... itulah kenyataan kerasnya hidup di ibukota Jakarta ini...
- Semua Serba Tanggung
Akibat banyaknya pelanggaran semuanya yang kita jalani di kehidupan sehari - hari dalam berjibaku di jalanan menjadi serba tanggung dan terdesak. Di mana pun, kapan pun dan apapunresikonya semua sudah ada yang merencanakan, yaitu oleh Tuhan Yang Maha Esa. Dimulai dari keluar dari rumah kita saja, dari apartemen kita, dari hotel kita menginap dan di mana pun tempat kita bernaung pasti pelanggaran itu sudah dan akan tercipta.
1. Parkir di Tanda Larangan Parkir P + \ dan berhenti di Tanda Larangan Berhenti S + \
Dimulai dari yang sederhana inilah peraturan banyak yang diindahkan... Lebih dari sekedar memarkirkan kendaraan kita di bangunan - bangunan yang berbeda karena saking penuhnya parkiran di bangunan kita tujui atau pun ketiadaan lahan parkir di bangunan tersebut seolah - olah keberadaan dari kedua rambu tersebut terabaikan. Banyak kendaraan umum yang singgah di kawasan tersebut hingga menjadikannya 'terminal bayangan' dan juga lahan untuk menaiki dan menuruni penumpang meski dengan hitungan detik apalagi menit saja.
2. Garis - garis Marka Jalan
Di kebanyakan negara lain di sekitar kita sangat penting penggunaan garis - garis marka jalan yang ada. Garis - garis marka jalan menjadikan identitas rambu - rambu lalu lintas yang tidak tertempel di pinggir jalan apalagi yang berdiri tegak di sebuah tiang tinggi. 1 saja kita langgari, maka akan memiliki dampak yang besar dan cukup besar bagi kendaraan bermotor di sekitarnya.

3. Menonton Musibah di Dekat Kita
Orang - orang Indonesia itu serba unik... Di saat kita menderita suatu musibah pasti akan mengeluh kesakitan dan di saat kita melihat orang - orang yang tertimpa musibah justru malah menonton, bukanlah lekas menolong baik dengan memanggil Ambulans apabila korban kecelakaan, petugas blanwir apabila terjadi kebakaran dan pohon tumbang maupun dengan menolong dengan segenap kemampuan yang kita punya. Yang seperti ini semua akan memberi hambatan bagi lingkungan sekitar di mana musibah itu terjadi. Kekusutan arus kendaraan bermotor yang paling menonjol karena meski bukan terjadi di ruas jalan yang searah, tetapi para pengendara kendaraan bermotor yang dari arah mana pun yang notabene tidak terhalang justru penasaran ingin meontonnya seperti apa kecelakaan itu terjadi.
Namun, jika diri kita masing - masing akan mengalami suatu musibah susulan, maka sejauh mungkin lekas dihindari agar tidak menimpa diri kita masing - masing.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar