Hal.2
Problema Jakarta
problems in Jakarta
Berbicara soal Jakarta sudah pasti berbicara akan segala hal... Tanpa banyak berargumen lagi seputar kisah tentang Jakarta, aku akan langsung memberi segala pernak - pernik info tentang kota Jakarta terkini yang dapat para blogger rasakan, alami dan simak di dalam kehidupan sehari - hari. Para blogger sekalian pun dapat membandingi betapa jauhnya kehidupan masyarakat kota Jakarta ini dari sejahtera... Sepanjang tahun masyarakat terjerumus ke dalam 'lembah' belantara hitam kelam yang tiada jalan keluar atau solusi. Jakarta meninggalkan segudang kisah dan ragam pertanyaan...
Talking about Jakarta is definitely speaking of all things ... Without much argument anymore about the story of Jakarta, I would immediately give all the knick - knacks info on the latest city to the bloggers feel, experience and see in real life - today. The bloggers were able to collate all how far the public life of this city of peace ... Throughout the year people fall into the 'valley' pitch-black wilderness is no way out or solution. Jakarta leaving a myriad of stories and variety of questions ...
Jakarta yang ramah bahkan pemerintah mencanangkan Enjoy Jakarta sebagai slogan memajukan pariwisata dalam kota. Namun, sayangnya itu hanyalah sekedar slogan... Tanpa ingin membeberkan logo kebesaran dari para Gubernur ibukota negeri kita tercinta Indonesia ini, sudah kupastikan kalau untuk membenahi obyek pariwisata saja tidak cukup dengan perawatan gedung - gedung bangunan yang ada. Jakarta perlu penataan kota yang terpadu... Permasalahan inti yang ada tidak lain yah soal anggaran kota, daerah dan apapun itu namanya baik mesti dapat dukungan 'moralitas' dari pihak swasta maupun juga pemerintah...
Jakarta is friendly even as the government announced a slogan promoting the Enjoy Jakarta tourism in the city. However, unfortunately it was just a slogan ... Without wanting to reveal the logo of the greatness of the Governor of the capital of Indonesia is our beloved country, has made sure to fix that tourism alone is not enough to care of the existing building. Jakarta needs a unified arrangement of the city ... Core issues that have nothing well about the city budget and any areas that should be able to support a good name 'morality' of the private sector and government as well ...
1. Dalam Berkelana di Sekitar Jakarta
1. Wandering Around in Jakarta
Tanpa perlu banyak komentar lagi, aku akan memberikan tips dalam penelusuran para blogger sekalian seberapa dahsyatnya penelusuran kita apabila sudah menginjakkan tanah serambi ibukota yang dikenal dengan sebutan surga dan nerakanya Indonesia ini... Jakarta bolehlah berbeda dengan kota - kota lain di Indonesia, namun Jakarta masih memberi segudang solusi baik yang masih dalam tahapan wacana maupun yang siap dan telah terlaksana... 1 yang mungkin para blogger rasakan begitu pertama kali menelusuri wilayah propinsi ibukota DKI Jakarta ini, yaitu panas yang berpacu dengan kesemrawutan lalu lintas di jalan raya dan trotoar.
Without much comment, I will give you tips in search of bloggers all how powerful the search we have set the ground when the porch is known as the capital of heaven and hell Indonesia is ... Jakarta so-so different from the other cities in Indonesia, but Jakarta is still giving a myriad of solutions that are still in the stage of discourse and who are ready and have done ... 1 which may be the bloggers feel it the first time explore the province's capital of Jakarta, that is heat races with the traffic chaos on the roads and sidewalks.
1.1. Dalam Menggunakan Angkutan Umum (Baca = Mengandalkan Selalu Sarana Angkutan Umum)
1.1. In the Use of Public Transport (Read = Always Rely on Public Transport Facility)
Jakarta dan sekitarnya banyak pilihan rute, aneka macam kendaraan dan waktu yang harus disesuaikan dengan kondisi yang terpenting dari yang kita miliki, yaitu uang... Namun, salah pilihan kendaraan sebagai moda transportasi akan merugikan bagi diri kita sendiri. Jangan bandingkan Jakarta dengan kebanyakan ibukota negara lainnya meski itu negara - negara tetangga kita sendiri. Di mana pun itu kotanya baik di dalam negeri maupun di luar negeri kita harus mewaspadai akan adanya bahaya laten yang sulit kita hindari, yaitu copet... Indonesia negara yang korup dan rakus akan kebebasan. Jakarta sebagai pusatnya berbagai akses jalan menuju ke mana pun kita tuju tentu saja terkumpul beragam suku bangsa yang berbaur terlebih di ruas jalan raya, bentangan rel KA, lintas udara dan laut.
Jakarta and surrounding a large selection of routes, various kinds of vehicles and the time that must be adapted to the conditions of the most important of which we have, the money ... However, one choice of vehicle as a mode of transport would be detrimental to ourselves. Do not compare the capital city of Jakarta with many other countries despite the country - our own neighbors. Wherever the city, both domestically and abroad we should be aware of the existence of latent dangers that are difficult to avoid, namely a pickpocket ... Indonesia the country is corrupt and greedy for freedom. Jakarta as a center range of the access road to wherever we are headed, of course collect diverse ethnic mix especially in the roadway, a stretch of railway, air and sea traffic.
* Harus Berhati - hati Memilih Kendaraan Umum
* Must Be - careful Choosing Public Transportation
Di propinsi DKI Jakarta terlebih semua kota di negara Indonesia ini haruslah mewaspadai dalam menaiki angkutan umum apapun itu. Mungkin di Indonesia ini sulit kita bandingkan dengan kebanyakan kota di negara lain yang dapat ditemui mirip dengan Indonesia, terlebih di ibukota Jakarta. Adapun itu di antaranya :
In the province of Jakarta in advance of all cities in Indonesia this country should be wary of any public transport in climbing it. Maybe in Indonesia is difficult to compare with most cities in other countries that can be encountered similar to Indonesia, especially in the capital Jakarta. As for that include :
- Pengemis, pengamen, pedagang asongan dan pelaku kriminal
- Beggars, buskers, street peddlers and criminals
Terkecuali di bus - bus Trans Jakarta dan KRL AC, kebanyakan di angkutan umum di Indonesia berbeda dengan di luar negeri. Kalau di luar negeri khususnya saya sendiri sering menemui mereka berada di area publik seperti pinggir jalan, taman kota, di luar bangunan apapun dan lain sebagainya, tidak untuk di Indonesia. Di ibukota Jakarta mereka berbaur dengan para penumpang jenis apapun itu moda transportasinya. Ruang gerak koridor yang sempit di dalam bus, angkot, KRL Ekonomi dan apapun itu tidak mengurungkan niat mereka untuk mendapat uang yang berlimpah. Betapapun penuhnya tetap saja mereka sudah mendapatkan 'lahan' untuk penghidupan yang layak dalam kehidupan sehari - hari.
With the exception of the Trans Jakarta bus and air-conditioning electric trains, mostly on public transport in Indonesia is different from abroad. If overseas, especially my own often find they are in public areas such as street, city parks, outside any building, etc., not to be in Indonesia. In the capital Jakarta they mingled with the passengers on the mode any kind of transportation. Narrow corridor of space on the bus, public transportation, and any Economic electric trains was not discouraged them to make money in abundance. No matter how full they are still getting the 'land' for a decent living in real life - today.
- Fasilitas Sarana dan Pra Sarana Yang Buruk
- The Bad Services and Pre Facilities
Di urutan kedua saya tempatkan sosok ragam moda transportasi umum yang ada di propinsi ini. Betapa buruknya jika para blogger telusuri dengan kondisi sarana publik di negeri ini. Mewakili Indonesia, ibukota Jakarta sudah banyak kendaraan umum yang sebetulnya tidak layak jalan. Adapun ketidak layakkan itu dapat kita amati seperti sarana kemudi yang terkadang sulit digunakan, kopling yang bermasalah sehingga sopir seringkali sulit mengatur kecepatan, gantungan tangan berupa batangan besi yang melintang dengan kondisi sekrup yang rusak, lantai yang rusak, bangku yang terlalu sempit (bukan standar untuk orang yang memiliki tinggi di atas 180 cm) dan masih banyak lagi.
Second placed I put in the figure of various modes of public transportation in this province. How bad if the blogger search with the condition of public facilities in the country. Represent Indonesia capital Jakarta has a lot of public transportation that actually is not roadworthy. The lack of sanctified it can be observed as a means of steering that is sometimes difficult to use, the clutch problem that the driver is often difficult to control the speed, hook hands of a transverse iron bars with screws conditions are broken, damaged floors, benches that are too narrow (not the standard for people who have a height above 180 cm) and much more.
- Pola Perilaku Sang Sopir dan Kondekturnya
- Behavior The driver and conductor
1. Menagih Uang Tarif Saat Dalam Perjalanan dan Kita Turun
1. Billed Money Rates As We Go Down the Road and
Sulit ditanggapi dengan akal sehat kita bahwa di Indonesia ini banyak sekali bahkan hampir semuanya melakukan pembayaran dengan cara menagih baik saat di dalam perjalanan maupun saat kita turun dari angkutan umum. Sebetulnya cara seperti ini sangat merepotkan para penumpang karena di saat kendaraan dalam keadaan penuh sang kondektur tetap memaksa para penumpangnya untuk memberi uang sesuai tarif yang berlaku.
Difficult addressed with common sense that in Indonesia we have a lot of almost all of them even make a payment by way of a good time to collect on the way and when we got out of public transportation. Actually, in this way is very inconvenient for the passengers in the vehicle when fully charged the conductor remains forcing the passengers to give the money according to the applicable fare.
- Jangan Harap Bayar dengan Uang Besar
Tarif cuma kisaran antara Rp 1.500,00 s/d Rp 7.000,00... Untuk kategori angkutan umum non bus Trans Jakarta dan non KRL Jabodetabek untuk semua klas, biasanya sang kondektur alias kenek tidak akan mampu memberi kembalian sebanyak mungkin. Semisal tarif si bus Rp 2.000,00, dengan kita memberi uang Rp 50.000,00 belum tentu akan diberi kembalian Rp 48.000,00 karena selain terlalu banyak, kenek bus dihadapi oleh banyak kendala saat berpacu dengan arus kendaraan bermotor dan waktu.
- Please Do not Pay with The Big Money
Rates range between Rp 1.500,00 until Rp 7.000... For the category of public transport non Trans Jakarta and non Jabodetabek electrical trains for all classes, usually the conductor alias kenek will not be able to give the return as much as possible. Such as the bus fare Rp 2000.00, with us giving money Rp 50.000,00 not necessarily be given a refund Rp 48.000.00 because in addition to too much, bus conductor many obstacles faced by bus while racing against the flow of vehicles and time.
- Menaikkan Tarif Semaunya Saja
Saya amat sangat menyarankan kepada para blogger sekalian
apabila menaiki bus, rangkaian KRL Jabodetabek, angkot dan apapun itu jenis
kendaraan umumnya agar mewaspadai tarif yang semanya saja dinaikkan. Ini
dikarenakan bisa banyak kemungkinan, di antaranya karena kita memberi uang yang
bernilai tinggi. Semisal kita naik angkot KWK merah yang seharusnya bertarif Rp
2.000,00 justru kita memberinya uang senilai Rp 5.000,00. Seringkali kita temui
sang sopir yang langsung memberi kembalian hanya Rp 2.000,00 saja.
-
Increasing the rate at will Only
I very highly recommend to all if the bloggers boarded the bus, a series
of Jabodetabek electrical trains, angkot means urban transport and whatever the
type of public transportation vehicles to be aware of just arbitrarily raised
rates. This is due to many possibilities, among them because we give great
value for money. We ride public transportation such as red KWK urban transport should
fare Rp 2000.00 we would give him the money worth Rp 5000.00. Often we meet the
driver who immediately gave it returns only Rp 2000.00.
- Uang Kotor alias Dekil di Mana Saja
Jangan aneh jika di negara Indonesia ini khususnya di ibukota DKI Jakarta seringkali kita mendapati uang - uang yang sudah sangat kumel, lecak, bahkan dekil karena senilai di bawah Rp 50.000,00. Untuk itu, kita pasrahkan saja apabila sang kenek atau pun sopir angkutan umum memberi uang - uang seperti itu.
- Dirty Money aka filthy Anywhere
Do not be strange if in this country, especially in Indonesia's capital Jakarta often we find a lot of money that has been very dirty, muddy, filthy even as valued under Rp 50.000.00. For that, we must surrender if kenek means conductor or the driver of any public transport to give a lot of money like that.
2. Menyetir Ugal - Ugalan dan Teriak Selantang / Sekencang Mungkin
2. Reckless driving - oats and Yelled al Loud as possible
Jangan ditanya soal kenyamanan dan keamanan dalam berkendara, sudah bagus kita bisa tiba dengan selamat tanpa cedera fisik. Terlalu memacu gas dengan cepat dan memberhentikan kendaraan yang mereka kemudi di sembarang tempat tentu sudah menjadi santapan harian tanpa menggubris keluhan para penumpangnya. Namun, kita para blogger sebagai penumpang tentu tidak mendapat pilihan lain selain harapan lainnya mau tidak mau dengan menaiki taksi yang tentu saja tarifnya lebih mahal.
Do not ask about the comfort and safety in driving, we can have nice arrived safely without physical injury. Spur the gas too quickly and dismiss their vehicle steering in any place would have become a daily meal ignoring complaints from passengers. However, we are the bloggers as a passenger would have no other choice but to hope would not want a taxi, of course, more expensive price.
3. Diturunkan di Sembarang Tempat
3. Any place is derived in
Jangan aneh jika kita diturunkannya di sembarang tempat saat kita minta untuk diturunkan di suatu tempat. Umumnya para penumpang meminta turun di kawasan yang umumnya menjadi 'lahan' naik - turun penumpang. Adapun perilaku sopir angkutan umum non kereta api bersama kondekturnya setiap menurunkan para penumpangnya berada di beberapa lokasi, antara lain di jalur busway, di lajur kanan sehingga apabila kita hendak ke pinggir jalan harus melawan derasnya arus kendaraan bermotor, di jalur cepat bagi ruas jalan raya yang memiliki jalur lambat dan jalur cepat, bahkan di jalur yang berlawanan arah, di putaran balik, di tanjakan atau pun turunan pada sebuah jembatan layang atau pun juga terowongan, di akses jalan keluar - masuk sebuah bangunan perkantoran, mal, plaza dan lain - lain, di tengah - tengah prapatan atau pun pertigaan jalanan dan lain sebagainya.
Do not be strange if we lowered over the place when we are asked to drop back down somewhere. Generally, the passenger asked that generally falls in the region to 'land' up - down passengers. The behavior of drivers of public transport with non-conductor of each train passengers are lower in some locations, such as the busway lane, in the right lane so that if we are going to have to curb motor vehicle against the swift current, in the fast lane of the roadway have the slow lane and fast lane, even in the opposite direction, turning round, on a hill or a derivative on a viaduct or tunnel as well, on the access road exit - enter an office building, mall, plaza and other - other in the middle of intersection or street intersection and so forth.
Beberapa di antaranya pernah saya alami, seperti saat berada di dalam bus Metro Mini 72 jurusan Blok M - Lebak Bulus di mana saat berada di pertigaan Mayestik si sopir sengaja memberhentikan bus yang dikemudinya itu di tengah pertigaan. Praktis saja para pengendara kendaraan bermotor dari arah Jl. KH. Ahmad Dahlan sulit melajukan kendaraan mereka karena terhalang oleh si bus yang dikemudikan oleh sopir yang egois tersebut. Belum lagi saat berada di bus Mayasari Bakti P7 jurusan Pulo Gadung - Grogol dengan alasan mengejar waktu, saya dan yang lainnya diturunkan di jalur busway yang beresiko tersambar kendaran bermotor yang melintas. Bayangkan saja kalau para penumpangnya itu orang - orang jompo, membawa anak kecil, membawa barang belanjaan cukup banyak dan lain sebagainya.
Some of them I've ever experienced, as it was in the Metro Mini bus 72 majors Blok M - Lebak Bulus in while in the T-junction where the driver intentionally Mayestik the driver intentionally drove the bus stop in the middle fork. Practical course of motorists from the direction of Jl. KH. Ahmad Dahlan difficult drove their vehicle because it was blocked by the bus driven by a driver who is selfish. Not to mention while on the Mayasari Bakti bus P7 majors Pulogadung - Grogol the grounds on time, I and others descended on the busway lane at risk of being struck by passing vehicles. Just imagine if the passengers were people - the elderly, carrying small children, carrying groceries and other pretty much.
4. Jangan Berurusan (Baca = Membentak Apalagi Berkelahi) dengan Mereka Berdua
4. Do not Deal (Read = snap Moreover Fighting) with Them Together
Saya yakin banyak negara yang menjatahi suatu 'lahan' kawasan sebagai sarang preman. Tidak terkecuali di area terminal, stasiun, bandara beserta moda transportasi yang ada. Kalau kita membentaki mereka tentu saja menjadi urusan yang panjang. Bagus mereka cuma sekedar mendengar keluhan kita sebagai penumpang.... yang amat berbahaya jika di antara mereka sudah naik pitam dengan siap berkelahi secara fisik. Akibat yang terjadi sekujur tubuh kita akan terluka parah dan yang paling fatal nyawa kita akan menghilang. Mereka berdua tentu juga dikelilingi oleh para preman yang tidak segan akan membantu jika keadaan yang sudah mendesak.
I'm sure a lot of countries that giving a 'land' area as a nest of thugs. Not least in the terminal area, stations, airports and their mode of transportation available. If we scold them of course be a long affair. They just simply nice to hear our complaint as a passenger .... very dangerous if among them are a fit with physically ready to fight. Result has been the whole body is going to get hurt the most severe and fatal our lives will disappear. They both of course are also surrounded by the thugs who did not hesitate to be helpful if the circumstances are urgent.
Meskipun saya sendiri belum pernah mengalami, namun sebagai langkah kewaspadaan sebaiknya menasehati saja secara halus meski dengan emosi sekalipun. Beragam cara yang dapat kita lakukan, seperti memberitahu kalau nyetirnya jangan ngebut, nyetir harus pakai perasaan dan lain sebagainya. Jangan mengeluarkan kalimat seperti "Pake otak donk... an**ng!!" karena akan mengundang emosi yang labil bagi kepribadian mereka berdua.
Although myself have experienced, but precautions should be advised as it is smooth, though with emotion though. The different ways we can do, like tell if how to drive it not speeding, driving must use feelings and so forth. Do not issue a sentence such as "Use your brain ... fuc**ng sh*t!!" because it would invite an unstable emotional for both of their personalities.
5. Berbeda Arah, Namun Melewati 1 Wilayah (Baca = Jatah Lahan Sewaan)
5. Different direction, however Past Region 1 (Read = Allowable Land Rental)
Perlu para blogger sekalian ketahui, selama di Indonesia ini kita sebagai para penumpang diistilahkan sebagai 'sewaan' karena setiap memasuki angkutan umum, seolah kita menyewa tempat baik untuk duduk maupun berdiri. Tidak harus selalu dipandang negatif, justru istilah ini hanya sebagai patokan saja bagi mereka. Namun, jangan kita menggerutu atau mengeluh apabila di suatu wilayah kita mengalami sesuatu yang mendebarkan seperti layaknya menaiki wahana roller coaster di taman hiburan. Dengan kecepatan yang kencang sang sopir dengan sengaja melajukan kendaraan mereka untuk bersaing dan menghindar secepat mungkin untuk mendapatkan sewaan.
All bloggers need to know, while in Indonesia, we as passengers are termed as 'hired' for each entering public transit, as if we hire a good place to sit or stand. Not necessarily be viewed negatively, precisely this term only as a benchmark for them. However, we do not grumble or complain when in an area we have something like a thrilling roller coaster ride at the amusement park. With the fast speed of the driver intentionally drove their vehicles to compete and escape as quickly as possible to get hired.
Kemungkinan 1 :
Possibility 1:
Karena kendaraan angkutan umum yang kita naiki melewati kawasan yang 'tidak diizinkan' untuk mengangkut para penumpang. Kecuali di antara kita hendak turun di wilayah tersebut. Itu pun harus dengan susah payah diturunkan cukup jauh dari yang kita minta.
Because public transportation vehicles we ride through the region are 'not allowed' to transport the passengers. Unless of us want to go down in the region. That had to be painstakingly derived quite far from what we ask.
Saya mengalaminya salah satunya saat berada di sebuah angkot merah yang memang bukan lahan mereka untuk menaik - turunkan penumpang. Pintu angkot pun dipaksa untuk ditutup rapat agar tidak terlihat para preman yang mengawasi gerak - gerik mereka. Dibuka kembali begitu sudah melewati ruas jalan tertentu. Cara ini mereka lakukan karena selain penumpangnya sedikit, kemacetanlah yang menjadi kendala bagi mereka untuk mempersingkat waktu.
I experienced one of them while in a red public transportation that is not their land for ascending - down passengers. The door was forced to shut down public transportation meeting in order not to see the thugs who oversee the motion - their movements. Re-opened once it passes a particular road segment. This way they do because in addition to its passengers a little, congestion is an obstacle for them to shorten the time.
Kemungkinan 2 :
Possible 2:
Bus 1 melaju dari A ke D, sedangkan bus 2 melaju dari B ke E. Mereka saling dipertemukan di ruas jalan C dan sama - sama diberi izin untuk menaik - turunkan penumpang. Namun, karena persaingan, maka sang kondektur biasanya meneriaki sang sopir sebagai aba - aba kalau pesaingnya ada di depan atau pun di belakangnya. "26 BANG!! Masih jauh di belakang!!"seru si kondektur biasanya sambil menghitung uang recehan atau pun juga bergelantungan di pintu. >> Angka 26 yang saya ketik bukanlah nomor rute kendaraan yang sebenarnya. Namun, apabila benar ada ke mana pun itu rutenya, maka itu suatu kebetulan saja dan saya tidak bermaksud untuk berburuk sangka. << Apabila merasa terdesak, maka si sopir tidak segan untuk melajukan gasnya dengan sangat kencang. Tidak peduli para penumpang di dalamnya terancam yang penting dia berdua bisa mendapatkan uang yang banyak untuk kemudian disetor kepada juragan mereka.
1 rode the bus from A to D, while the second bus drove from B to E. They met each other at C and the same road - both given permission for ascending - down passengers. However, due to competition, then the conductor is usually yelling at the driver as a code if its competitors are in front or behind. "26 BANG!! Still far behind!" Cried the conductor, usually while counting coins or else hanging on the door. >>Figures 26 I type the route number is not the actual vehicle. However, if there is anywhere that route, then it is a coincidence and I do not intend to prejudice. << If the feeling of urgency, then the driver did not hesitate to accelerate the gas to very tight. No matter the passengers in it he threatened the important both could get a lot of money and then passed on to their bosses.
Seringkali saya alami yang salah satunya saat saya berada di dalam bus Koantas 102 rute Ciputat - Tanah Abang. Di koridornya itu bus tersebut memiliki salah satu pesaingnya, yaitu bus Metro Mini 72 rute Lebak Bulus - Blok M.
Often, one of which I experienced when I was on the Koantas 102 bus route Ciputat - Tanah Abang. On the bus corridor has one of its competitors, the Metro Mini bus 72 routes Lebak Bulus - Blok M.
6. Sengaja Berhenti Lama atau 'Ngetem' di Wilayah Persinggahan
6. Deliberately Long Stop or 'ngetem' sojourn in the Territory
Jangan merasa aneh, jangggal dan tidak masuk diakal jika di suatu perjalanan para blogger sekalian mengalami nasib di mana angkutan umum yang para blogger naiki secara tiba - tiba berhenti dengan lama. Ini sengaja mereka lakukan agar umumnya saat isi dari si angkutan umum masih terlalu sepi untuk dipenuhi para penumpang. Berbeda dengan bus Trans Jakarta dan rangkaian kereta api mau sepi atau pun penuh akan tetap berlaju dengan singgah setidaknya cuma hitungan detik atau paling tidak beberapa menit saja.
Do not feel weird, prop and unreasonable if the bloggers on a trip in which all suffered the fate of public transport ride from out of the bloggers - an abrupt halt with the old. They do this deliberately so that the contents of the current general public transit is still too quiet to be met the passengers. Unlike the Trans Jakarta bus and train circuit will be lonely or even a full stop at least keep it running with just a few seconds or at least a few minutes.
Jadi, saya sangat menyarankan agar para blogger sekalian mempelajari studi kasus seperti ini menjadi pengalaman agar untuk yang kedua kali tidak mengalami kejadian yang serupa apabila di antara kita sedang mengejar waktu yang terdesak.Saya tidak mengharapkan untuk pindah angkutan umum karena belum tentu di angkutan umum berikutnya akan berjalan dengan lancar sesuai yang kita harapkan.
So, I strongly recommend that all bloggers are studied as a case study in order to experience the second time not experienced something similar when we're pursuing at the time a little. I do not expect to move public transport because public transport is not necessarily the next will go smoothly according to what we expect.
7. Mengindahkan Rambu - rambu Lalu Lintas
7. Heed the signs Traffic
Berangkat dari situs yang aku dapat, yaitu
http://malesbanget.com/2011/08/4-kebiasaan-buruk-pengguna-jalan-di-jakarta-yang-harus-dihentikan/ telah jelas bahwa kondisi kejiwaan masyarakat Jakarta mewakili seantero Indonesia tanpa memandang ragam suku, agama, strata dan lingkungan sekitar masing - masing banyak yang mengindahkan yang namanya 'rambu - rambu keduniaan' ini. Mengenyampingkan rambu - rambu lalu lintas sebagai di antaranya berarti mengabaikan keselamatan jiwa dan raga kita sendiri...
Departing from sites that I can, that http://malesbanget.com/2011/08/4-kebiasaan-buruk-pengguna-jalan-di-jakarta-yang-harus-dihentikan/ it is clear that the mental condition represented throughout Indonesia Jakarta diversity regardless of race, religion, strata and their environment - each lot to heed such thing as 'signs mundane' is. Disregard signs traffic as a means of which overlook the safety of our own body and soul ...
- Harus Hafal Rute Yang Biasa Kita Tuju
- Must Memorize The Usual Route We Go
Mungkin hanya di Indonesia saja satu - satunya cara untuk menghindari macet dan mempersingkat waktu selalu digunakan oleh kebanyakan sopir dan kondekturnya untuk mencari arah, antara lain :
Perhaps only in Indonesia the only one way to avoid traffic jams and shorten the time is always used by most driver and the conductor to find directions, among others:
1. Mengambil Jalan Pintas Yang Bukan Rutenya
1. Not Taking A Shortcut route
Jakarta memiliki banyak rute yang bercabang ke mana pun sesuai kita inginkan. Namun, rute - rute yang ada dapat menyesatkan kita jika kita tidak mewaspadai yang mana para sopir dan kondekturnya seenaknya mengalihkan rute ke ruas jalan lainnya. Seperti contoh saat si angkot seharusnya melayani rute A - D dengan melewati daerah (semisal kelurahan B), namun oleh karena macet sang sopir berdua mengalihkan ke daerah C. Jika terpaksa, para blogger bisa turun di daerah C untuk berganti kendaraan lain jika sebetulnya ingin menuju ke daerah B.
Jakarta has many routes that branch off to wherever appropriate we wanted. However, the route that is able to lead us astray if we are not aware of where the driver and conductor casually divert routes to other roads. Such examples should serve as the public transportation route A - D by passing through the area (such as sub B), but because jammed both the driver the switch to area C. If forced, the blogger can go down in the C to change another vehicle if it really wants to get to the area B.
Peristiwa ini pernah saya alami saat saya menaiki bus Metro Mini 92 dengan rute Grogol - Ciledug. Saat saya sebetulnya ingin turun di Jl. Kedoya Raya dengan terpaksa saya harus turun di prapatan Jl. Panjang karena bus tidak berbelok ke kanan melainkan lurus.
This event I have ever experienced when I boarded the Metro Mini 92 bus with route Grogol - Ciledug. When I really want to go down on Jl. Kedoya Kingdom reluctantly I had to get off at Jl. Panjang intersection because the bus did not turn to the right but straight.
2. Dipaksa Turun di Perjalanan
Entah apa di luar negeri juga sama demikian... Di ibukota Jakarta sudah tidak aneh tiap sopir berdua kondekturnya menyuruh agar para penumpangnya 'dipindahkan' ke armada lainnya yang berada di depan atau pun di belakangnya. Hal ini biasa mereka lakukan tiap kali situasi lalu lintas dalam keadaan macet atau pun juga sepi penumpang. Mereka melakukan tak - tik yang beragam, yaitu dengan memberi uang yang pada umumnya Rp 1.000,00 dari tarif yang berlaku tidak lain Rp 2.000,00 untuk diberikan kepada kondektur armada lainnya. Namun, jangan terlalu percaya begitu saja karena armada di belakangnya belum tentu ada.
Saya mengalami kejadian ini salah satunya saat saya menaiki bus Mayasari Bakti dengan rute Kampung Rambutan - Grogol. Karena kemacetan yang cukup parah di ruas jalan raya Jl. S. Parman seberang Rumah Sakit Harapan Kita saya diminta kondektur dan sopirnya untuk naik bus yang sama di belakangnya. Sekitar 1/2 jam saya menunggu tidak kunjung datang. Yang ada saya justru menaiki bus Kopaja 86 rute Lebak Bulus - Kota yang justru penuhnya bukan main. Untung saja di kawasan Slipi cukup banyak para penumpang yang turun, jadi kami yang terlantar masih cukup longgar untuk berdiri di dalam bus. Dengan tarif Rp 2.000,00 yang berlaku dan lembar uang Rp 1.000,00 yang dikembalikan ke saya oleh kondektur si Mayasari, maka saya cukup mengeluarkan uang ekstra sebesar Rp 1.000,00 saja...
3. Ketiadaan Petunjuk Arah Yang Jelas
Tidak seperti di Milan di negara Italia seperti yang diutarakan oleh mantan asisten dosen saya, tidak seperti di Gold Coast di negara Australia seperti yang diutarakan oleh sepupu perempuan saya, tidak seperti di Kuala Lumpur di negara Malaysia seperti yang diutarakan teman penggemar kereta api saya, bahkan tidak seperti di Bangkok seperti yang pernah saya alami sendiri selama berkelana dalam rangka studi wisata dengan teman - teman kuliah saya saat itu... Di Indonesia khususnya di ibukota Jakarta petunjuk arah itu masih sangat minim apabila kita tidak hafal rute mana saja yang akan dituju.
Saran saya apabila para blogger sekalian ada yang berkewarga negaraan asing dan hanya faseh berbahasa Inggris, sebaiknya para blogger sekalian harus pandai bertanya kepada beberapa orang yang sekiranya berada di kawasan publik yang mayoritas berkumpul orang - orang dari kalangan menengah ke atas. Mengapa demikian? Sebab mayoritas masyarakat Indonesia golongan menengah ke bawah minim faseh berbahasa asing seperti bahasa Inggris melainkan hanya faseh berbahasa Indonesia dan daerah mereka masing - masing. Meski sudah dijawab, namun petunjuk yang diberikan tersebut belum tentu kebenarannya sebesar 100%. Belajar dari pengalaman sebaiknya apabila para blogger sekalian berada di ibukota Jakarta hanya dalam waktu singkat antara 2 - 7 hari saja harus menghafali patokannya saja. Semisal kita menginap di hotel Sahid Jaya yang hendak berbelanja di pasar Mayestik. Pilihan dengan menaiki bus Trans Jakarta memang sudah tepat karena di depannya persis terdapat halte busway Setia Budi. Mungkin dengan menaikinya hingga terminal Blok M menjadi pilihan alternatif pertama yang setelah itu disambung dengan menaiki bus Metro Mini 72 dengan jurusan Blok M - Lebak Bulus. Namun, kita harus perhatikan dari segi waktu yang mungkin terbuang karena kemacetan yang luar biasa di Jl. Jend. Sudirman, musibah tabrakan antar kendaraan bermotor, kemacetan yang disebabkan hujan deras dan lain sebagainya. Bahkan di terminal Blok M pun minim petunjuk di jalur mana saja bus yang hendak kita naikin itu berada...
4. Harus Pintar Menguasai Pola Estafet
Di negara mana pun aku jamin di tiap kotanya pasti akan mengalami keseharian yang serupa seperti kebanyakan dari kita alami, terlebih para blogger sekalian dan aku sendiri... London yang mengedepankan subway-nya, Kuala Lumpur yang mengedepankan monorail-nya dan di mana pun seperti di kota Jakarta sendiri yang mengandalkan jasa bus - bus Trans Jakarta pasti tidak akan selalu menikmati itu semua... Di ibukota Jakarta tanpa ingin menganak emaskan transportasi Trans Jakarta dan KRL sekalipun tentunya aku ingin sekali memberi tips setiap kali kita hendak bepergian ke suatu tempat yang penting.
Tips 1 > Tetap Dengan Menomor Satukan Jam Keberangkatan Lebih Awal :
Jangan karena tanggung jaraknya dekat ini atau pun enggak terlalu jauh membuat kita berangkat entar - entaran saja. Ini membuat rasa kekuatiran kita semakin memuncak manakala peristiwa yang tidak terduga menghantui kita semua. Musibah kecelakaan, pemblokiran karena sesuatu akan segera melintas, aksi tawuran dan lain sebagainya pasti akan terjadi di suatu tempat. Bisa saja terjadi di lokasi di mana pra blogger biasa melintas.
Tips 2 > Naiklah Angkutan Umum Yang Biasa Kita Naikin Jika Merasa Sudah Yakin
Kalau memang sudah terbiasa menggunakan bus A, biarkan saja kita naik sewajarnya. Namun, jangan kalau kita sudah merasa curiga terus kita naikin. Apalagi mendengar dari sanak kerabat di bus tersebut biasa terjadi sesuatu, sebaiknya dihindarin saja.
Tips 3 > Kucing - kucingan
Tidak masuk di akal memang mengapa pada hari ini tidak seperti biasanya kemarin bus B datang terlalu lama. Padahal jam masuk kantor sudah akan tiba... Hanya karena bus yang biasa kita naikin kekurangan armada atau pun terlalu lama
ngetem alias berhenti lama untuk mendapatkan
sewaan atau para calon penumpang sebanyak mungkin harus merelakan waktu yang senggang sementara ruas jalan raya yang ada masih longgar. Sebaiknya kita harus menguasai situasi di mana ini akan terus terjadi sepanjang hari. Selama menjadi turis yang bisa saja di Jakarta hanya selama 2 - 7 hari saja tidak akan terasa dampaknya karena semisal keluar dari hotel saja setelah sarapan jam sudah menunjukkan pukul. 08.00 yang berarti mayoritas orang kantoran sudah di dalam kantor masing - masing, anak - anak sekolah sudah di sekolah masing - masing, begitu pun mereka yang di kampus. Naik bus pun dengan tujuan berwisata pada umumnya kawasan wisata buka sekitar jam 10 pagi. Setelat - telatnya begitu tiba di kawasan wisata bisa menyinggahi suatu restoran terlebih dahulu untuk makan siang.
Cara yang bisa para blogger lakukan bisa seperti yang pernah saya alami salah satunya sebagai berikut :
Jika hendak naik bus Trans Jakarta naiklah sesegera mungkin tanpa mempedulikan bus tersebut hendak menuju ke mana. Yang penting rutenya sesuai yang kita inginkan. Saya mengalami saat di mana hendak menuju ke Senen. Naik dari salah satu halte di Koridor 3, turun di halte transit Harmoni karena yang aku naik itu untuk benar - benar rute Kalideres - Pasar Baru. Begitu turun di Harmoni tidak langsung antri untuk yang ke Koridor 2 saat antriannya panjang melainkan naik yang Koridor 1 karena ramai armada busnya. Dari situ saya pun turun di halte Monumen Nasional untuk selanjutnya mencapai harapan terakhir, yaitu naik bus berikut untuk turun di halte transit Senen.
Jadi pada intinya, apabila tidak menguasai situasi, maka waktu kita akan terbuang. Seperti yang saya ketik di atas saat saya mengalami antrian di halte transit Harmoni begitu panjang untuk antrian Koridor 2, sementara antrian di halte Monumen Nasional tidak begitu panjang.
- Mobil Kecil (Angkot dan Mikrolet) Biasa Memasuki Kawasan Gang dan Perumahan
Meskipun bus - bus sekalipun seperti Metro Mini, Kopaja, Koantas Bima dan lain sebagainya, mereka ini tidak akan mampu memasuki ruas jalan yang tergolong kawasan gang sempit yang hanya mampu dilalui oleh 2 mobil dan motor yang saling melintas berlawanan arah, namun penuh kehati - hatian apabila tidak ingin terserempet. Saya amat sangat menyarankan agar para blogger sekalian harus memikirkan rute, keuangan dan kendaraan angkutan umum dengan matang. Bisa saja para blogger sendiri yang menderita kerugian waktu yang terbuang hanya karena naik angkot A harus memasuki gang B. Begitu masuk, si angkot harus putar - putar masuk dari gang keluar gang. Padahal secara kasat mata jelas akan lebih singkat semisal cukup melalui ruas jalan C ketimbang harus melalui gang B. Yah... itulah kendaraan angkutan umum yang notabene ingin mendapatkan sewaan alias penumpang sebanyak mungkin untuk disetor ke majikan mereka.
Rute tersebut memang sudah menjadi rute normal alias resmi. Karena ketidak tahuan dari kita masing - masing, maka yang seharusnya cukup naik bus D, jadinya malah terbawa oleh angkot A tersebut dengan harus mengambil resiko waktu yang terbuang begitu banyak. Yang saya pantau memang banyak para penumpang yang naik - turun di suatu ruas jalan atau pun gang tersebut.
Saya pernah mengalami saat saya menaiki Mikrolet M37 dengan jurusan Pulo Gadung - Ps. Senen. Yang seharusnya rute saya hendak dari Sunter ke stasiun Pasar Senen, jutru saya malah dibawa putar - putar tidak jelas kapan berakhir melalui gang sempit di sekitaran kecamatan Kemayoran tersebut. Panas, haus, lamanya berhenti di beberapa ruas gang dan sempitnya ruas jalan saya alami. Belum lagi tercampur dengan polusi udara asap knalpot. Yang ada karena ketidak tahanan saya menghadapi situasi ini terpaksa saya turun di stasiun Kemayoran untuk menerusi perjalanan naik KRL / kereta rel listrik yang seharusnya saya niati naik dari stasiun Pasar Senen. Saya pun bertaubat apabila tidak ada urusan penting menyangkut apapun di daerah Sunter. Apabila dari Kelapa Gading hendak ke Pasar Senen, maka angkutan umum yang patut dinaiki tidak lain angkot merah KWK 04 sampai Pulomas, sambung lagi Mikrolet yang ke arah Kota.
- Ketidak Akuratan Waktu
Salah sekiranya apabila para blogger sekalian menganggap apabila sekali naik di waktu yang sama, maka bus tersebut akan datang kembali. Apalagi soal beberapa armada yang sekiranya banyak sekali jumlahnya, namun pada kenyataannya tidak demikian.
1. Naiklah Angkutan Umum Diwaktu Yang Tidak Dekat
Ibukota Jakarta bukanlah Singapura, Paris, Amsterdam dan beberapa kota di mancanegara yang mana ketepatan waktunya terjamin. Di Indonesia, khususnya di Jakarta justru waktu tidak dapat dihandalkan keakuratannya. Seperti yang saya utarakan di atas bahwa jumlah armada dan satu lagi berupa kemacetan yang menjadi masalah nomor satu. Semisal apabila kita ada acara untuk menonton film di bioskop XXI yang diputar di jam 1 siang di Plaza Senayan, sementara kita berada di apartemen Gading Mediteranian di Tanjung Duren, maka sebisa mungkin harus beranjak paling telat di jam 11 siang sudah berada di ruang Lobi Entrance untuk kemudian semisal menaiki bus Metro Mini yang ke arah terminal Grogol. Dari situ bisa disambung dengan bus Trans Jakarta dari halte busway Grogol untuk turun di halte busway Bunderan Senayan dengan 2x naik.
Dari kasus seperti di atas ini, sekedar saya sarankan apabila naik angkutan umum ke rute tersebut sebaiknya beranjak dari jam 1/2 11 siang saja agar tidak merasa jenuh dan gelisah menunggu lamanya kedatangan bus Trans Jakarta. Apabila waktunya sangat mendesak, sebaiknya dipikir - pikir lagi menggunakan bus atau pun ojek melainkan dengan taksi saja.
2. Tidak Cukup Omongan dari Banyak Orang Saja
Banyak yang memberi tahu kalau dari A ke B hanya ditempuh sekian lama baik itu dalam kondisi lancar maupun macet total. Namun, dari pengalaman saya pribadi selama para blogger sekalian berada di Indonesia khususnya di ibukota Jakarta, buang semua masukan dari mereka itu. Kecuali kalau di antara para blogger sekalian 'didesak' untuk percaya karena tiada pilihan lain elain harus mempercasyai orang tersebut. Khususnya Jakarta semuanya dapat berubah dalam seketika. Baru saja beberapa menit yang lalu semisal ruas jalan raya di Jl. S. Parman lancar sekali. Namun, koq... siang seperti ini justru tumben sekali tiba - tiba macet??? Kata "tumben" itulah yang menjadi acuhan kita kalau situasi bisa berubah dalam waktu singkat dan tidak diduga - duga.
3. Gangguan Dalam Perjalanan
Menyambung dari ketikan saya di atas ini di nomor 1 bahwa gangguan itu dapat saja bahkan sering terjadi. Di rangkaian kereta api terganggu oleh sinyal dan wesel atau pemindah jalur di mana kereta api harus berlaju, di jalan raya bisa saja terjadi musibah atau kecelakaan lalu lintas, di jalur bus Trans Jakarta pun terkadang terhambat oleh keberadaan bus - bus Trans Jakarta yang mogok di jalurnya sendiri sehingga terpaksa harus 1 jalur dengan jalan umum dan di antara kita sendiri seringkali beralasan yang beragam. Sebut saja itu baru bangun tidur, baru mau berangkat, lagi nanggung karena disuruh orang rumah dan lain sebagainya.
- Permainan Tarif
1. Tidak Selalu Per Jarak
Siapa yang mengatakan kalau menaiki angkutan umum itu dilihatnya per jarak? Pada kenyataan yang ada sama saja koq... Jauh - dekat sama - sama seperti itu tarifnya... Pengecualian apabila kita naik taksi. Sudah pasti di mana pun negara yang para blogger kunjungin akan berbeda sesuai jaraknya. Beragam cara para sopir lakukan melalui jasa - jasa perusahaan taksi masing - masing, yaitu argo yang notabene untuk alat ukur jarak yang angkanya akan bertambah terus sesuai lamanya penumpang di dalam taksi bisa dinegosiasikan antara sopir dan penumpang dan ada pula yang memang sudah seperti itu diaturnya Tapi hati - hati dengan istilah 'argo kuda' yang mana setiap naik akan berlipat ganda sehingga seharusnya jarak sedemikian pendek atau pun panjangnya hanya sekian Rupiah meski melalui kemacetan sekalipun, namun ini akan mahal sekali.
2. Beda Jenis Angkutan Umum Beda Tarif
Tentu saja di Indonesia ini entah memiliki kesamaan dengan negara lain atau tidak, khususnya di wilayah Asia... Menaiki bus berbeda dengan saat para blogger sekalian menaiki angkot, Mikrolet, bajaj, kancil dan lain sebagainya. Setiap kali kita naik bus, maka jarak jauh - dekat sama saja semisal Rp 2.000,00. Namun, apabila para blogger sekalian naik angkot, Mikrolet, ojek dan lain sebagainya, maka akab disesuaikan dengan jarak. Kalau angkot dan Mikrolet sesuai dengan jarak batas, maka kalau ojek, bajaj, kancil dan lain sebagainya sesuai dengan jauhnya jarak tempuh yang dilalui.
Saya mengalami salah satunya saat saya berada di angkot KWK merah 08 rute Lebak Bulus - Bintaro. Naik dari terminal Lebak Bulus kalau saja turun di Rempoa, maka tarif yang dikenakan Rp 2.000,00. Begitu pun saat turun di Jl. Veteran Raya dengan tarif Rp 3.000,00. Namun, karena saya turun di Bintaro Jaya, maka tarif pun yang dikenakan Rp 4.000,00. Berbeda dengan ojek yang sudah pasti akan lebih mahal dengan angka pengeluaran penumpang minimal Rp 4.000,00 sekali berlaju dengan jarak yang sangat dekat sekalipun. Dengan ojek, bisa saja apabila sampai di Rempoa akan dikenakan Rp 10.000,00. Tidak dapat dibayangkan apabila kita turun di Bintaro Jaya minimal Sektor 2 Bintaro.
* Kapasitas Yang Membeludak
Seringkali kita temui kalau kendaraan umum di jam - jam tertentu penuh melebihi kapasitas yang ada. Tidak aneh jika orang dulu menujulukinya "bus kota miring ke kiri". Apalagi bus tersebut di antaranya melekat pada bus berjenis bus tingkat dan bus PPD. Kini, bus semakin banyak jenisnya, mulai dari bus mini atau berukuran kecil, bus besar seperti Mayasari Bakti, Steady Safe, PPD dan lain sebagainya, bus sekolah yang tentu saja ber-AC dan bus khusus yang berlaju di jalur khusus tidak lain yah bus Trans Jakarta.
- Jangan Memilih Saat Jam Pergi Kerja
Baik itu orang kantoran, pedagang toko, pebisnis maupun pelajar, semuanya berbaur dalam 1 armada bus yang tidak kunjung usai penuhnya. Seperti halnya di rangkaian KRL AC, Ekonomi dan dahulu kala juga di KRL AC Eskpres dan Ekonomi AC (sebelum menginjakkan tanggal 1 Desember 2011 tentunya), di bus dan angkot pun juga demikian. Saya mengalami saat hendak menaiki bus Kopami Jaya P12 untuk rute Kalideres - Senen. Saat hendak naik tidak muat sama sekali karena di dalam sudah penuh sesak hingga bergelantungan. Namun, di bus ke-2 pun juga sama saja. Maka dari itu, saya menyarankan agar mencari bus lainnya jika ingin bepergian ke suatu tujuan.
- Kerapkali Dibajak oleh Sekumpulan Orang
Sebut saja itu tim pendukung suatu kesebelasan dalam sepak bola, sekumpulan ormas yang mengatas namakan sesuatu, para pelajar dari suatu sekolah dan memang yang benar - benar dipesan tetapi untuk sesuatu yang negatif karena dapat menimbulkan petaka bagi 'musuh bebuyutan' yang ada. Apabila saat di perjalanan kita dipaksa oleh mereka ini untuk turun, maka turuti saja. Biarlah ini menjadi urusan problematika yang dialami sang sopir beserta kondekturnya. Kecuali kalau kita sebagai penumpang terancam dengan senjata tajam, bahkan senjata api. Apalagi semakin hari marak aksi pelemparan batu ke arah mana pun itu, terlebih rangkaian kereta api yang melintas tanpa sebab yang jelas melainkan hanya sekedar keisengan saja.
- Pintu Armada Angkutan Umum Yang Tidak Tertutup
Dahulu memang kita masih menjumpai rangkaian KRL Ekonomi dengan pintu ditutup rapat. Namun, pasca peralihan dari badan usaha mereka yang berbentuk PJKA (Perusahaan Jawatan Kereta Api) menjadi PERUMKA (Perusahaan Umum Kereta Api) semuanya menjadi kenangan saja. Banyak pintu yang sengaja diganjal dengan batu, balok kayu dan media apapun itu oleh para penumpang yang merasa tidak nyaman karena di dalam rangkaian penuh sesak. Begitu pun di dalam armada bus, angkot, Mikrolet dan apapun itu kendaraannya. Sebetulnya amat sangat membahayakan, namun masyarakat tidak punya pilihan lain apabila tidak menggunakan bus Trans Jakarta dan KRL AC untuk situasi sekarang ini. Bagi para blogger sekalian yang berada di di pintu harap - harap cemas saja karena dengan terpaksa harus berpegangan pada suatu benda apapun itu di dalam kendaraan yang ada agar tidak terjatuh atau terhempas ke jalanan.
- Yang Menomor Satukan Keamanan dan Kenyamanan
Dapat terbilang demikian... Namun, pada kenyataannya sungguh seringkali berbeda dengan di lapangan setiap kali para blogger sekalian mengalami langsung segimana jerih payah kita dalam menaiki armada angkutan umum di Jakarta ini...
1. Di Bus Trans Jakarta, Dibatasi Jumlah Penumpang
Awalnya kita dapat mengacungi jempol dengan cara seperti ini karena para petugas di pintu bus bukanlah kondektur yang menagih uang tarif ke para penumpangnya melainkan benar - benar mengajai pintu sebagai 'problematika' tempat para penumpang naik - turun bus. Di situlah kita yang para calon penumpang mereka dibatasi seberapa banyak yang mesti rela menunggu di halte untuk naik bus berikutnya dan seberapa banyak yang bisa ikut masuk ke dalam bus tersebut
2. Di Bus Trans Jakarta, Terdesak Oleh Waktu
Jangan aneh jika posisi kita saat di pintu halte terjepit oleh para calon penumpang lainnya yang tidak ingin masuk ke dalam bus tersebut dengan beragam alasan, seperti di dalam bus sudah penuh sehingga sulit mendapati tempat duduk yang masih kosong, karena membawa barang belanjaan yang banyak apalagi sosok dirinya merasa sudah menjadi manula dan lebih banyak lagi dikarenakan berbeda rute yang ingin dituju. Meski pada hitungan detik kita berhasil menyelak mereka dengan kalimat "permisi" sekalipun, oleh karena waktu yang sudah ditentukan, maka para petugas jaga pintu bus langsung mengacungkan jempol dengan meneriaki kata "lanjut!" seraya menyuruh sang sopir menutupi pintu bus sambil melajukan bus yang dikemudikannya itu. Tentu saja kita pun tidak ikut terbawa di dalamnya.
3. Di Bus Trans Jakarta, Banyak Yang Terbengkalai
Mewakili juga angkutan umum lainnya yang non Trans Jakarta kalau sarana yang dimiliki banyak sekali yang sudah terbengkalai. Sebut saja itu AC yang tidak dingin, pintu yang sudah sulit terbuka dan tertutup secara otomatis, gantungan tangan yang hilang, bentangan besi utnuk pegangan tangan yang copot, pola cara pengereman bus yang dilakukan para sopir selalu bermasalah dan masih banyak lagi. Sungguh dilema yang berkepanjangan saat di awal pengoperasiannya dijanjikan akan selalu diberi kenyamanan dan keamanan yang terjamin serta waktu tempuh yang cepat.